Menjadi diri sendiri adalah kalimat yg terus menerus terngiang selama 2 minggu perjalanan panjangku. Satu kalimat yg bisa berarti banyak, variatif atau bahkan mungkin sederhana saja tergantung bagaimana kita menginginkan itu terjadi.Menjadi sulit dan variatif jika "bahkan untuk" jadi diri sendiri pun kita berpikir terlalu keras. Padahal menjadi diri sendiri hanya sebuah hal sederhan,melakukan apa yang kita mau dengan cara paling pas dengan kemampuan kita, apapun hasil dari yang kita lakukan tidak menjadi beban. Saat kita menjadi diri sendiri, kita tidak menggadaikan kehendak yang kita lakukan, pada nilai-nilai dan ukuran orang lain.
Apapun pada akhirnya, selalu akan dinikmati dan disyukuri sebagai kebahagiaan-kebahagiaan dengan ukuran kita. Menjalani hidup menjadi ringan dan indah, seberat apapun orang menilai perjalanan hidup kita. Hidup pada intinya adalah saat ini, kemarin sudah menjadi masa lalu, masa depan adalah mimpi yang belum terjadi. Bagaimana mewujudkannya sangat bergantung bagaimana kita ber"ikhtiar" hari ini. Hasil yang membahagiakan itu, ketika ikhtiar kita lakukan dengan hati ringan dan bahagia karena kita mengetahui "itu yang kita mau", itu yang kita inginkan. Pada hasil akhirnya, kita akan legowo karena pada setiap tahapnya kita sudah melakukannya dengan bahagia.
Kita bisa menyaksikan dengan jelas, orang-orang yang hidup bahagia tidak selalu ukurannya adalah keberpungaan akan harta benda. Bahkan sering sekali kita saksikan, keberlimpahan rasa syukur dari seseorang, memperlihatkan kedamaian yang tidak dimiliki oleh mereka yang terkungkung oleh harta bendanya, status sosialnya. Mereka yang setiap langkahnya tergadai oleh nilai dan ukuran lingkungan, golongan, dan orang lain pada umumnya. Terlihat mereka terpenjara, walaupun mungkin juga tetap menikmatinya sebagai bagian dari konsekuensi pilihan hidupnya.
Jangan salah, menjadi diri sendiri pun bukan berarti kita keluar dari apa yang menjadi ukuran "kebaikan" yang bersifat universal. Ada hal-hal yang menjadi norma yang tetap akan jadi alarm saat kita keluar dari nilai tersebut. Alarm itu bahkan muncul dari diri kita sendiri, pada bentuk "kebimbangan " alami yang akan menuntun kita untuk selalu bergerak di jalur yang benar.
Bisikan nurani tidak akan menjadi belenggu yang akan mengekang kita, shingga kita harus menjadi sosok lain. Bisikan nurani hanya akan memperindah kita saat menentukan menjadi diri sendiri. Kemurnian bisikan nurani yang tulus, akan membebaskan kita dari keegoisan pada pilihan hidup kita.
Jadi saat kita tahu, tidak ada yang sulit pada pilihan untuk menjadi bahagia, masihkah kita merelakan "pilihan" hidup kita tergadai pada hal-hal yang akan memasung kita dalam kebahagiaan semu.
Be yourself, Be happy...
Banjarmasin, 20 11 2011
Minggu, 20 November 2011
Selasa, 01 November 2011
Menjemput masa depan....
Hidup ini penuh warna, dan keindahan merenungi warna-warni itu seperti keindahan memandang sang pelangi. Setiap guratan warna, menggambarkan suatu ruang dan waktu yang telah terjalani, yang kesemuanya hanya akan menjadi kenangan ketika waktu terus berputar.
Tidak ada yang serba terlalu, dari semua guratan warnanya.
Ketika warna duka dan kesedihan yang tergambar, atau mungkin kegembiraan dan kebahagiaan, semua sama, hanya akan menjadi masa lalu, yang telah kita lalui dan kita tinggalkan.
Ketika kita memandangnya, mungkin dada ini bergetar hebat karena kebahagiaan dan kegembiraan yang telah ditorehkan di hati ini.
Atau mungkin air mata mengalir perlahan, mengenang kepedihan pada warna duka yang telah ditinggalkan.
Tapi semua sama......saat kita berjalan di masa kini, kemarin adalah masa lalu...
Bahkan jika pun kita tidak mengharapkan kehilangan warna-warna itu, kita tidak akan pernah bisa memutar kembali pada tempatnya.
Bahkan jika kita menghiba, mengharapkan waktu berhenti berputar, saat kita mengalami kebahagiaan...maka kekuatan sang waktu tak akan mampu kita cegah, untuk memaksa kita meninggalkan semuanya.
Ibarat pelangi, warna kehidupan kita akan terasa indah jika kita memandangnya menjadi satu, ada suka dan duka, ada tawa dan tangis, sedih dan gembira, berselang-seling dalam setiap undakan waktunya. Jika kita hanya memandang satu warna saja, maka kita hanya akan tenggelam pada kerapuhan sebuah asa...akan kesedihan dan kegembiraan itu sendiri.
Memandang kehidupan dengan warna yang utuh, memunculkan rasa syukur atas semuanya, dan menghilangkan penghakiman pada setiap langkah yang telah kita ambil.
Setiap insan, ketika akan diturunkan di muka bumi, sudah lengkap dengan catatan perjalanan hidupnya, lengkap dengan rejeki dan jodohnya, lengkap dengan takdir waktu akhirnya.
Dan semua tertulis dalam buku rahasia Sang Maha. Kita hanya diminta untuk "menjemput" masa depan itu sampai batas akhir waktu kita, dengan kegigihan ikhtiar dan membuka tabir rahasia "takdir" kita masing-masing.
Maka, tentunya kita tidak berhak menjadi hakim atas pilihan jalan hidup orang lain. Setiap orang mempunyai legenda hidupnya masing-masing, dengan segala konsekuensi dari pilihan-pilihan atas hidupnya.
Tempat kita bagi orang lain hanyalah, menyebarkan kebaikan dan saling mengingatkan dengan bil hikmah.
Dan di titik ini, di kesempatan kehidupan yang telah diberikan padaku, kupandangi keindahan pelangi hidupku.
Ada kecemasan...keindahan pelangi yang aku pandang dan telah kujalani ini, apakah kujalani sesuai dengan kehendak dan takdir-Nya, atau hanya karena semata keinginan dan nafsu kehidupanku saja ????
Tuhan....jika apa yang telah kujalani tidak sesuai dengan apa yang telah engkau suratkan, maka kembalikanlah aku dalam pelukanMu, ke jalan yang Engkau kehendaki....
Hanya Engkaulah yang mempunyai kekuatan untuk membolak-balikan hati, karena betapa tidak berdayanya hamba atas keinginan-keinginan dan harapan-harapan...
Tuhan....terkadang pilihan-pilihan akan mimpi-mimpi dan keinginan selalu ditautkan sebagai takdir yang telah Engkau gariskan, maka jika itu adalah kesalahan, ampunilah hamba...
Bantulah hamba menjemput masa depan, seperti yang telah Engkau takdirkan....
Jika pun hamba adalah bagian terbaik dari orang lain dalam kehidupan ini, maka berilah ruang dan jalan sesuai RidhoMu....
Jika pun kehidupan hamba menjadi lengkap atas manfaat bagi orang lain, maka mudahkanlah......
Jika pun Engkau menghendaki hamba ber-hijrah maka ringankanlah segalanya...
Tuhan...sesungguhnya masa depan bersamaMu adalah yang terbaik...
Maka peluklah hamba untuk bisa menggapaiNya....tanpa harus ada air mata dan kesedihan atas rasa kehilangan pada sesuatu yang menjadi mimpi dan harapan.....
Tuhan...betapa banyak keingingan dan harapan, karena sesungguhnya Engkau lah yang Maha kuasa untuk menentukan yang terbaik bagi hamba...
Banjarmasin, 1 11 11....
Tidak ada yang serba terlalu, dari semua guratan warnanya.
Ketika warna duka dan kesedihan yang tergambar, atau mungkin kegembiraan dan kebahagiaan, semua sama, hanya akan menjadi masa lalu, yang telah kita lalui dan kita tinggalkan.
Ketika kita memandangnya, mungkin dada ini bergetar hebat karena kebahagiaan dan kegembiraan yang telah ditorehkan di hati ini.
Atau mungkin air mata mengalir perlahan, mengenang kepedihan pada warna duka yang telah ditinggalkan.
Tapi semua sama......saat kita berjalan di masa kini, kemarin adalah masa lalu...
Bahkan jika pun kita tidak mengharapkan kehilangan warna-warna itu, kita tidak akan pernah bisa memutar kembali pada tempatnya.
Bahkan jika kita menghiba, mengharapkan waktu berhenti berputar, saat kita mengalami kebahagiaan...maka kekuatan sang waktu tak akan mampu kita cegah, untuk memaksa kita meninggalkan semuanya.
Ibarat pelangi, warna kehidupan kita akan terasa indah jika kita memandangnya menjadi satu, ada suka dan duka, ada tawa dan tangis, sedih dan gembira, berselang-seling dalam setiap undakan waktunya. Jika kita hanya memandang satu warna saja, maka kita hanya akan tenggelam pada kerapuhan sebuah asa...akan kesedihan dan kegembiraan itu sendiri.
Memandang kehidupan dengan warna yang utuh, memunculkan rasa syukur atas semuanya, dan menghilangkan penghakiman pada setiap langkah yang telah kita ambil.
Setiap insan, ketika akan diturunkan di muka bumi, sudah lengkap dengan catatan perjalanan hidupnya, lengkap dengan rejeki dan jodohnya, lengkap dengan takdir waktu akhirnya.
Dan semua tertulis dalam buku rahasia Sang Maha. Kita hanya diminta untuk "menjemput" masa depan itu sampai batas akhir waktu kita, dengan kegigihan ikhtiar dan membuka tabir rahasia "takdir" kita masing-masing.
Maka, tentunya kita tidak berhak menjadi hakim atas pilihan jalan hidup orang lain. Setiap orang mempunyai legenda hidupnya masing-masing, dengan segala konsekuensi dari pilihan-pilihan atas hidupnya.
Tempat kita bagi orang lain hanyalah, menyebarkan kebaikan dan saling mengingatkan dengan bil hikmah.
Dan di titik ini, di kesempatan kehidupan yang telah diberikan padaku, kupandangi keindahan pelangi hidupku.
Ada kecemasan...keindahan pelangi yang aku pandang dan telah kujalani ini, apakah kujalani sesuai dengan kehendak dan takdir-Nya, atau hanya karena semata keinginan dan nafsu kehidupanku saja ????
Tuhan....jika apa yang telah kujalani tidak sesuai dengan apa yang telah engkau suratkan, maka kembalikanlah aku dalam pelukanMu, ke jalan yang Engkau kehendaki....
Hanya Engkaulah yang mempunyai kekuatan untuk membolak-balikan hati, karena betapa tidak berdayanya hamba atas keinginan-keinginan dan harapan-harapan...
Tuhan....terkadang pilihan-pilihan akan mimpi-mimpi dan keinginan selalu ditautkan sebagai takdir yang telah Engkau gariskan, maka jika itu adalah kesalahan, ampunilah hamba...
Bantulah hamba menjemput masa depan, seperti yang telah Engkau takdirkan....
Jika pun hamba adalah bagian terbaik dari orang lain dalam kehidupan ini, maka berilah ruang dan jalan sesuai RidhoMu....
Jika pun kehidupan hamba menjadi lengkap atas manfaat bagi orang lain, maka mudahkanlah......
Jika pun Engkau menghendaki hamba ber-hijrah maka ringankanlah segalanya...
Tuhan...sesungguhnya masa depan bersamaMu adalah yang terbaik...
Maka peluklah hamba untuk bisa menggapaiNya....tanpa harus ada air mata dan kesedihan atas rasa kehilangan pada sesuatu yang menjadi mimpi dan harapan.....
Tuhan...betapa banyak keingingan dan harapan, karena sesungguhnya Engkau lah yang Maha kuasa untuk menentukan yang terbaik bagi hamba...
Banjarmasin, 1 11 11....
Kamis, 27 Oktober 2011
Dia bernama Aniek.....
Adalah suatu senja, saat matahari menjelang pamit di kotaku, kehebohan itu datang. Kehebohan yang ternyata telah tertahan berhari-hari, tetapi baru kutemui senja itu.
Dia muda..... jika hitungannya adalah usia, tetapi kehidupan telah menggilas kemudaan itu dan memberikannya usia tambahan 10 tahun. Tergeletak tak berdaya bersandar pada kursi tua yang sudah tak layak duduk, di posko yang gelap.
Dia wanita...... yang dalam kekurangannya masih menggenggam naluri keibuan untuk menyelamatkan kedua anaknya. Anak yang jadi tumpuan dan semangatnya untuk tetap bertahan, dua atas tiga yang yang terpisahkan.
Dia tuna..... tanpa hak atas harta yang pernah melekat dalam usianya. Tuna atas kasih sayang yang terengut setelah maut memisahkan dari yang mengasihinya. Tuna atas mimpi yang buyar kala satu per satu penyakit menggerogotinya. Tuna dalam ketidak berdayaan atas kemampuan berjuang untuk hidup, bahkan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tuna akan pemahaman, mengapa semua harus dia jalani.
Dia pasrah..... pada kehidupan dan mencoba untuk terus menjalaninya. Pasrah pada apa yang dikehendaki Sang Esa atas hidupnya. Pasrah pada bumi yang membawanya pada titik nadir rasa iba orang-orang yang dilaluinya. Pasrah pada hati yang dia sendiri bahkan tidak memahaminya.
Yang dia tahu....dia memiliki cinta dan tanggung jawab atas anak-anaknya..
Yang dia tahu..... selagi Allah masih mengijinkannya hidup, maka hidupnya adalah untuk anak-anaknya, berjuang untuk mereka, bahkan jika harus menggantungkan hidup pada alam dan kekayaan milik Allah...
Maka waktu pun terus berputar, merayap pada apa yang menjadi kehendakNya untuknya..
Dan dia bernama Aniek....
Anak alam yang dikasihi Allah, dan padanya semua pelajaran tertumpah, tersirat dan tersurat.
Banjarmasin, 27 Oktober 2011
Tepat di Hari Blogger Nasional
Kupersembahkan untuknya, atas sentuhan rasanya untukku...
"Dan jika Allah berkehendak, maka dibukakan pintu-pintu hati, digerakan tangan-tangan mengulurkan pertolongan, bahkan pada apa yg disebut "mustahil"...subhanallah
Dia muda..... jika hitungannya adalah usia, tetapi kehidupan telah menggilas kemudaan itu dan memberikannya usia tambahan 10 tahun. Tergeletak tak berdaya bersandar pada kursi tua yang sudah tak layak duduk, di posko yang gelap.
Dia wanita...... yang dalam kekurangannya masih menggenggam naluri keibuan untuk menyelamatkan kedua anaknya. Anak yang jadi tumpuan dan semangatnya untuk tetap bertahan, dua atas tiga yang yang terpisahkan.
Dia tuna..... tanpa hak atas harta yang pernah melekat dalam usianya. Tuna atas kasih sayang yang terengut setelah maut memisahkan dari yang mengasihinya. Tuna atas mimpi yang buyar kala satu per satu penyakit menggerogotinya. Tuna dalam ketidak berdayaan atas kemampuan berjuang untuk hidup, bahkan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tuna akan pemahaman, mengapa semua harus dia jalani.
Dia pasrah..... pada kehidupan dan mencoba untuk terus menjalaninya. Pasrah pada apa yang dikehendaki Sang Esa atas hidupnya. Pasrah pada bumi yang membawanya pada titik nadir rasa iba orang-orang yang dilaluinya. Pasrah pada hati yang dia sendiri bahkan tidak memahaminya.
Yang dia tahu....dia memiliki cinta dan tanggung jawab atas anak-anaknya..
Yang dia tahu..... selagi Allah masih mengijinkannya hidup, maka hidupnya adalah untuk anak-anaknya, berjuang untuk mereka, bahkan jika harus menggantungkan hidup pada alam dan kekayaan milik Allah...
Maka waktu pun terus berputar, merayap pada apa yang menjadi kehendakNya untuknya..
Dan dia bernama Aniek....
Anak alam yang dikasihi Allah, dan padanya semua pelajaran tertumpah, tersirat dan tersurat.
Banjarmasin, 27 Oktober 2011
Tepat di Hari Blogger Nasional
Kupersembahkan untuknya, atas sentuhan rasanya untukku...
"Dan jika Allah berkehendak, maka dibukakan pintu-pintu hati, digerakan tangan-tangan mengulurkan pertolongan, bahkan pada apa yg disebut "mustahil"...subhanallah
Selasa, 07 Desember 2010
Biarkan Aku Pergi...
Biarkan aku pergi...
Karena aku tujuan tak bermasa depan
Biarkan aku pergi...
Karena aku tersembunyi di fatamorgana
Biarkan aku pergi...
Karena aku bukan keabadian itu
Saat aku pergi..
Angin tetap berhembus indah
Saat aku pergi..
Mentari akan tetap hangat bersinar
Saat aku pergi...
Pelangi tetap indah berwarna
Maka...
Biarkan aku pergi
Berhijrah pada langkahku
Bersama kesejatian dan keindahan
Jakarta, 1 Muharam 1432 H.....
Karena aku tujuan tak bermasa depan
Biarkan aku pergi...
Karena aku tersembunyi di fatamorgana
Biarkan aku pergi...
Karena aku bukan keabadian itu
Saat aku pergi..
Angin tetap berhembus indah
Saat aku pergi..
Mentari akan tetap hangat bersinar
Saat aku pergi...
Pelangi tetap indah berwarna
Maka...
Biarkan aku pergi
Berhijrah pada langkahku
Bersama kesejatian dan keindahan
Jakarta, 1 Muharam 1432 H.....
Kamis, 02 Desember 2010
Diuntaian namamu....kutahtakan doaku....
Saat kau tanyakan, apa arti namamu. Kupandangi bulatnya bola mata dan atusias wajahmu.
Kuulangi dengan bahagia, sebahagia wajah kecilmu yang selalu mengulang pertanyaan yang sama.....
Namamu adalah doa...
Namamu adalah harapan atas hidupmu...
Dan bak sinar rembulan,
Wajahmu berbinar....matamu bersinar terang
Seperti bintang yang selalu menyejukanku.
Kau akan bertanya lagi, bagaimana saat kau dilahirkan....
Dengan antusias yang tak pernah berkurang, Kau bagai mendengar dongeng indah dari mulutku..
Semua selalu terulang....
Saat kau berpeluk rahman dari Sang Maha, dalam rahimku...
Saat bagaimana ruh itu ditiupkan, nama dan takdirmu tertulis di arsy...
Saat aku berjuang untuk bisa mendekapmu dg kedua tanganku, dalam detik-detik kelahiranmu...
Saat tangismu membahana dunia...
Saat adzan dibisikan di telingamu
Itulah hal terindah, kau kupeluk dg hangat...
Anugerah yang melengkapi kebahagiaan dan kesempurnaan dalam hidupku...
Itulah kisahmu....legendamu
Yg selalu ingin kau dengarkan
Dengan binar mata dan antusias yang sama
Kutahtakan doa dalam namamu..
Doa yang akan menemanimu, kemana pun kau pergi
Dalam setiap hembusan nafasku,
Getar nadiku, dan aliran darahku
Doa itu terus menetes melewati setiap pembuluh darahmu....terus dan terus..
Bahkan jika aku tiada lagi....
Doa itu akan selalu ada...
14 tahun kau sudah melengkapi hidupku
Memberi kesempurnaan kebahagiaan
Menjadi alasan aku bertahan dalam badai
Menjadi sebab aku tegar dalam setiap undakan hidupku
Kau adalah wujud kasih sayang Tuhan untukku
Di senyummu ada sebagian diriku
Di tawamu ada cerminku
Di kerianganmu....itulah aku...
Maka terimakasih untuk selalu memberi percikan kebahagiaan tiada henti
Terimakasih untuk membuatku merasa berarti
Terimakasih untuk membuatku merasa penting....
Pilihlah kehidupan yang akan membuat kau bahagia
Pergilah kemana kau bisa merasa menjadi yang terbaik dalam hidupmu
Karena dimana pun kau berada
Aku akan selalu ada untukmu
Kutahtakan semua harapan dan asa
Untuk kebahagiaan dan kebaikan hidupmu
Kebarokahan yang tiada akhir...
Dalam namamu...
Muhammad Syafiq Fawwaz....
Cahaya yang penuh tauladan dari RasulNya, yang penuh kelembutan dan bijaksana.....
Itulah doaku...
Atas dirimu...
Sepanjang usiamu...
Happy B'day 14 years old...my lovely boy
Banjarmasin, 2 Desember 2010
Dinihari penuh syukur...
(Build me a son, O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face him self when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory......
..........
General Douglas A. MacArthur)
Kuulangi dengan bahagia, sebahagia wajah kecilmu yang selalu mengulang pertanyaan yang sama.....
Namamu adalah doa...
Namamu adalah harapan atas hidupmu...
Dan bak sinar rembulan,
Wajahmu berbinar....matamu bersinar terang
Seperti bintang yang selalu menyejukanku.
Kau akan bertanya lagi, bagaimana saat kau dilahirkan....
Dengan antusias yang tak pernah berkurang, Kau bagai mendengar dongeng indah dari mulutku..
Semua selalu terulang....
Saat kau berpeluk rahman dari Sang Maha, dalam rahimku...
Saat bagaimana ruh itu ditiupkan, nama dan takdirmu tertulis di arsy...
Saat aku berjuang untuk bisa mendekapmu dg kedua tanganku, dalam detik-detik kelahiranmu...
Saat tangismu membahana dunia...
Saat adzan dibisikan di telingamu
Itulah hal terindah, kau kupeluk dg hangat...
Anugerah yang melengkapi kebahagiaan dan kesempurnaan dalam hidupku...
Itulah kisahmu....legendamu
Yg selalu ingin kau dengarkan
Dengan binar mata dan antusias yang sama
Kutahtakan doa dalam namamu..
Doa yang akan menemanimu, kemana pun kau pergi
Dalam setiap hembusan nafasku,
Getar nadiku, dan aliran darahku
Doa itu terus menetes melewati setiap pembuluh darahmu....terus dan terus..
Bahkan jika aku tiada lagi....
Doa itu akan selalu ada...
14 tahun kau sudah melengkapi hidupku
Memberi kesempurnaan kebahagiaan
Menjadi alasan aku bertahan dalam badai
Menjadi sebab aku tegar dalam setiap undakan hidupku
Kau adalah wujud kasih sayang Tuhan untukku
Di senyummu ada sebagian diriku
Di tawamu ada cerminku
Di kerianganmu....itulah aku...
Maka terimakasih untuk selalu memberi percikan kebahagiaan tiada henti
Terimakasih untuk membuatku merasa berarti
Terimakasih untuk membuatku merasa penting....
Pilihlah kehidupan yang akan membuat kau bahagia
Pergilah kemana kau bisa merasa menjadi yang terbaik dalam hidupmu
Karena dimana pun kau berada
Aku akan selalu ada untukmu
Kutahtakan semua harapan dan asa
Untuk kebahagiaan dan kebaikan hidupmu
Kebarokahan yang tiada akhir...
Dalam namamu...
Muhammad Syafiq Fawwaz....
Cahaya yang penuh tauladan dari RasulNya, yang penuh kelembutan dan bijaksana.....
Itulah doaku...
Atas dirimu...
Sepanjang usiamu...
Happy B'day 14 years old...my lovely boy
Banjarmasin, 2 Desember 2010
Dinihari penuh syukur...
(Build me a son, O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face him self when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory......
..........
General Douglas A. MacArthur)
Rabu, 10 November 2010
Permata terindah....curahan hatiku pada miladmu, My Lovely Adizz

Di kesunyian ini, kupandangi lagi dirimu...
Masih sama seperti saat pertama aku memandangimu
Penuh kekaguman, takjub dan rasa tak percaya
Perasaan itu terus menerus muncul, jika kupandangi dirimu, di setiap tahapmu...
Bagiku, kau tetap seperti saat pertama hadirmu...
Selalu indah, selalu menakjubkan, menyejukan, dan menjadikanku merasa begitu sempurna....
Selalu ada terimakasih teramat sangat untukmu
Setelah berjuta terimakasih untukNya...
Kau selalu menyejukan hatiku...
Kau selalu memberikan ketenangan saat aku begitu gundah
Tatapan matamu, senyuman indahmu, mampu meredakan amarah, menenangkan hati, dan berbuah senyuman ketulusan...
Bersamamu dalam tawa, aku merasa begitu berarti
Bersamamu dalam tangis, aku merasa begitu bermakna....
Panjangnya perjalanan kebersamaan kita
Sepanjang itu pula telah kau taburkan kebahagiaan untukku
Sepanjang itu juga kasih sayang telah tercurah
Akan abadi sampai tiba saatku nanti....
Kau yang terindah....bagaimanapun dirimu
Kau kebanggaanku, apapun pilihan hidupmu...
Kau adalah doaku sepanjang perjalanan hidupmu
Apapun yang kau pilih, semoga itu yang terbaik yang engkau putuskan
Kau bertanggungjawab atas hidupmu
Kau merdeka atas pilihan-pilihanmu
Jangan kau lakukan apapun
Demi terimakasihmu padaku
Karena sesungguhnya, sepanjang usiamu, aku yang berterimakasih padamu...
Pada kehadiranmu....
Pada kebahagiaan yang menyertainya....
Pada keindahan yang selalu kau berikan
Dari tatap matamu
Dari tangisanmu
Dari tawa riangmu
Dari setiap kemanjaanmu
Di hatiku....kau permata terindahku, sebagaimana namamu kuukirkan dalam doaku pada Tuhan
Agar kau selalu dipeluk dalam rahman rahimnya...
Fairuz Ghina Mardhiyah Sugito....
Permata yang merupakan kekayaan yang diridhoi Allah...
Selalu......
Semoga......
Happy Sweet Seventeen My Lovely Adizz....
Luv U always....
Banjarmasin, 10 Nov 2010
Sebelum kembali memelukmu dlm tidur dan mimpi indahmu...
Fairuz Ghina Mardhiyah Sugito.....my lovely adizzz
Selasa, 02 November 2010
Memeluk kebahagiaan.....
Sinar mentari fajar masih jauh di bawah ufuk sana, dan langit pun masih dipeluk oleh kegelapan, saat aku memulai obrolan dengan sahabat lama. Sebuah ucapan doa tulus untuknya di hari spesial yang mengingatkannya akan indahnya karunia usia yang telah dilimpahkan.
Doa tulus itu diluncurkan hanya dalam kalimat-kalimat elektronik, tetapi aku berharap ketulusan dan rasa yang kusertakan semoga mengikutinya. Obrolan dengan sahabat selalu terasa hangat, setidaknya itu yang kurasakan, meski singkat, tapi tetap terasa kedekatanannya seperti saat kami masih bersama. Meski jarak dan waktu memisahkan, amanah masing-masing juga telah memberi jarak yang begitu jauh, tetapi bagiku, sahabat selalu menempati tempat-tempat istimewa yang akan selalu abadi.
Bersama mereka, aku merasa dimengerti, bersama mereka sejarah itu ada, dan perjalanan hidup ini nyata. Kami berada dalam hitungan putaran bumi yang sama. Telah 41 kali bumi mengitari matahari, sejak pertama kali Allah mengijinkan kami mereguk indahnya dunia.
41?? sebuah angka yang bahkan pada perbincangan masa lalu, menjadi angka yang sangat banyak, menjadi pengingat bahwa perjalanannya tinggal sedikit lagi, menjadi pagar bahwa semua akan mendekati titik akhirnya. Tetapi entah mengapa, jauh di lubuk hatiku, mengatakan ini semua baru dimulai...
Aku tak pernah menyembunyikan bahkan tidak ada sedikit pun keinginan untuk mengurangi angka-angka tersebut. Begitu indahnya perjalananku, dalam suka dan duka. Berharap saat ini telah memasuki masa kedewasaan yang akan memandang hidup dengan lebih bijak dan lebih indah.
Tidak ada keluhan dalam perjalanan usia ini, semua begitu berarti dalam suka dan duka. Berharap bahwa apa yang telah dijalani memberikan arti setidaknya bagi diriku, dan orang-orang di sekitarku. Telah begitu banyak limpahan karunia, kebaikan dan keindahan yang diberikan Tuhan untukku, sehingga tidak ada celah sedikitpun untukku menyesali apapun yang telah kujalani.
Satu yang mungkin aku ingin selesaikan, seandainya dalam perjalananku, telah membuat sakit hati dan berdampak buruk pada orang lain, maka hanya kata maaf yang kuinginkan, dan aku berharap telah mendapatkannya di putaran usia ini.
Dalam perjalanan hidup, siapa pernah mengetahui, kemana putaran ini akan berlabuh, dan siapa-siapa yang teriring bersama dalam buih yang menemani.
Bertahun aku mencoba menyusun batu-bata kebaikan agar terbangun rumah masa depan untukku yang di ridhoi Tuhan, siapa nyana mungkin dalam ke-papa-an dan kekhilafanku, satu per satu tembok itu ku hancurkan, sehingga hanya kelengangan yang mungkin aku dapatkan.
Tapi aku tindak ingin menjadi hakim untuk hidupku sendiri, sama seperti aku tak mengharapkan orang lain menghakimi semuanya. Karena hanya Sang Maha Adil lah hakim sesungguhnya. Aku hanya ingin menjalani apa yang ada dalam syukur, dan berupaya melakukan yang terbaik, apa yang telah ada dihadapanku. Segala getar kebaikan yang harus kulakukan, dan aku yakini, maka aku akan lakukan.
Mungkin saja keyakinanku akan kebenaran salah. Mungkin saja kebaikan yang kujalani adalah sebuah ke-khilafan. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk terlalu menimbang lagi, biarlah apa yang bergetar di nadiku dan menggetarkan jiwaku, menjadi tolok ukur atas bisikan kebaikan dari Tuhan...
Dan pada akhirnya, biarlah Sang Penimbang yang akan mengumpulkannya untukku. Untuk masa depanku.
Memberikan penghakiman pada diri sendiri, hanya akan menimbulkan kedukaan yang amat sangat dan menjadikan diriku sumber kesumpekan bagi orang-orang di sekelilingku.
Maka bergembira dan keceriaan menjadi syarat penting jika aku ingin mereka yang berada bersamaku pun bahagia. Karena hanya dengan kebahagiaan dan kegembiraan tulus dalam hati lah suasana indah akan terbangun...untuk semua yang menjadi amanahku.
Dan angka penanda itu memang sudah sedemikian banyak. Berbagai alarm tubuh pun sudah mulai satu per satu memberikan sinyal. Bahkan mungkin sebagai perempuan ada hal-hal yang harus selesai.
Tapi itu tak membuat kita semua harus menjadi temaram, kita tetap akan bersinar, ketika kita melihat segala sesuatu dengan positif dan menikmati hidup.
Karena selalu ada bagian kebaikan dalam setiap perjalanan usia kita, selalu ada peran yang tidak akan bisa terulang dan tergantikan oleh siapapun untuk kita.
Dan percayalah, kita sangat berarti untuk orang-orang yang tulus mencintai kita, telah merasakan indahnya 'cinta' kita ...
Sepanjang apa yang telah kita limpahkan..
Itu artinya panjangnya perjalanan waktu...
Itu artinya keindahan dalam hati...
Itulah kebahagiaan sejati..
Ketulusan cinta yang tak lekang oleh berubahnya fisik, berlalunya waktu dalam hitungan usia....karena semua ada di hati, yang tak akan tergantikan.
Semoga....
.
Banjarmasin, 2 Nov 2010
"Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia..." (Rumi)
Doa tulus itu diluncurkan hanya dalam kalimat-kalimat elektronik, tetapi aku berharap ketulusan dan rasa yang kusertakan semoga mengikutinya. Obrolan dengan sahabat selalu terasa hangat, setidaknya itu yang kurasakan, meski singkat, tapi tetap terasa kedekatanannya seperti saat kami masih bersama. Meski jarak dan waktu memisahkan, amanah masing-masing juga telah memberi jarak yang begitu jauh, tetapi bagiku, sahabat selalu menempati tempat-tempat istimewa yang akan selalu abadi.
Bersama mereka, aku merasa dimengerti, bersama mereka sejarah itu ada, dan perjalanan hidup ini nyata. Kami berada dalam hitungan putaran bumi yang sama. Telah 41 kali bumi mengitari matahari, sejak pertama kali Allah mengijinkan kami mereguk indahnya dunia.
41?? sebuah angka yang bahkan pada perbincangan masa lalu, menjadi angka yang sangat banyak, menjadi pengingat bahwa perjalanannya tinggal sedikit lagi, menjadi pagar bahwa semua akan mendekati titik akhirnya. Tetapi entah mengapa, jauh di lubuk hatiku, mengatakan ini semua baru dimulai...
Aku tak pernah menyembunyikan bahkan tidak ada sedikit pun keinginan untuk mengurangi angka-angka tersebut. Begitu indahnya perjalananku, dalam suka dan duka. Berharap saat ini telah memasuki masa kedewasaan yang akan memandang hidup dengan lebih bijak dan lebih indah.
Tidak ada keluhan dalam perjalanan usia ini, semua begitu berarti dalam suka dan duka. Berharap bahwa apa yang telah dijalani memberikan arti setidaknya bagi diriku, dan orang-orang di sekitarku. Telah begitu banyak limpahan karunia, kebaikan dan keindahan yang diberikan Tuhan untukku, sehingga tidak ada celah sedikitpun untukku menyesali apapun yang telah kujalani.
Satu yang mungkin aku ingin selesaikan, seandainya dalam perjalananku, telah membuat sakit hati dan berdampak buruk pada orang lain, maka hanya kata maaf yang kuinginkan, dan aku berharap telah mendapatkannya di putaran usia ini.
Dalam perjalanan hidup, siapa pernah mengetahui, kemana putaran ini akan berlabuh, dan siapa-siapa yang teriring bersama dalam buih yang menemani.
Bertahun aku mencoba menyusun batu-bata kebaikan agar terbangun rumah masa depan untukku yang di ridhoi Tuhan, siapa nyana mungkin dalam ke-papa-an dan kekhilafanku, satu per satu tembok itu ku hancurkan, sehingga hanya kelengangan yang mungkin aku dapatkan.
Tapi aku tindak ingin menjadi hakim untuk hidupku sendiri, sama seperti aku tak mengharapkan orang lain menghakimi semuanya. Karena hanya Sang Maha Adil lah hakim sesungguhnya. Aku hanya ingin menjalani apa yang ada dalam syukur, dan berupaya melakukan yang terbaik, apa yang telah ada dihadapanku. Segala getar kebaikan yang harus kulakukan, dan aku yakini, maka aku akan lakukan.
Mungkin saja keyakinanku akan kebenaran salah. Mungkin saja kebaikan yang kujalani adalah sebuah ke-khilafan. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk terlalu menimbang lagi, biarlah apa yang bergetar di nadiku dan menggetarkan jiwaku, menjadi tolok ukur atas bisikan kebaikan dari Tuhan...
Dan pada akhirnya, biarlah Sang Penimbang yang akan mengumpulkannya untukku. Untuk masa depanku.
Memberikan penghakiman pada diri sendiri, hanya akan menimbulkan kedukaan yang amat sangat dan menjadikan diriku sumber kesumpekan bagi orang-orang di sekelilingku.
Maka bergembira dan keceriaan menjadi syarat penting jika aku ingin mereka yang berada bersamaku pun bahagia. Karena hanya dengan kebahagiaan dan kegembiraan tulus dalam hati lah suasana indah akan terbangun...untuk semua yang menjadi amanahku.
Dan angka penanda itu memang sudah sedemikian banyak. Berbagai alarm tubuh pun sudah mulai satu per satu memberikan sinyal. Bahkan mungkin sebagai perempuan ada hal-hal yang harus selesai.
Tapi itu tak membuat kita semua harus menjadi temaram, kita tetap akan bersinar, ketika kita melihat segala sesuatu dengan positif dan menikmati hidup.
Karena selalu ada bagian kebaikan dalam setiap perjalanan usia kita, selalu ada peran yang tidak akan bisa terulang dan tergantikan oleh siapapun untuk kita.
Dan percayalah, kita sangat berarti untuk orang-orang yang tulus mencintai kita, telah merasakan indahnya 'cinta' kita ...
Sepanjang apa yang telah kita limpahkan..
Itu artinya panjangnya perjalanan waktu...
Itu artinya keindahan dalam hati...
Itulah kebahagiaan sejati..
Ketulusan cinta yang tak lekang oleh berubahnya fisik, berlalunya waktu dalam hitungan usia....karena semua ada di hati, yang tak akan tergantikan.
Semoga....
.
Banjarmasin, 2 Nov 2010
"Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia..." (Rumi)
Langganan:
Postingan (Atom)