"Kenapa harus dipasung ??"
"Karena kami sayang "
"Sayang kok dipasung ?"
"Karena kebebasan akan menyakitinya, menyakiti orang lain, yang kemungkinan lebih menyakitinya"
"Tapi kan kasihan..."
"Agar kami tetap bisa merawatnya"
"Cobalah dibebaskan, kasihan kakinya..."
"Bagaimana kalau dia menghilang, bagaimana kalau dia diperkosa orang di jalan, bagaimana kalau dia menyakiti dan malah disakiti lebih keras lagi, siapa yang akan peduli ???"
"Duh....."
"Bagi orang lain, dia adalah sampah. Bagiku dia tetap karunia, selagi Allah masih memberi kekuatan pada kedua tanganku, biarkan ia dirawat dengan caraku"
"Dibawa ke rumah sakit saja yah, pemerintah harus ikut menanggung beban ini"
"Rumah sakit akan menjadikannya angka-angka, mungkin ada obat, tapi tanpa kasih sayang. Biarlah dia bersamaku, merasakan suapan dari tanganku, meski serba kekurangan, tapi banyak kasih sayang"
..............................................................................................................
Dan aku pun tertegun, pada keheningan diantara kami. Sorot mata semua yang ada disitu, menghujam pada ulu hati terdalam. Saat teknis dan teori mati tak berdaya. Udara kering mengalirkan getaran basahnya kepedihan.
Pada punggung tangan tua itu, yang terlihat liat oleh kehidupan. Mengais rupiah demi rupiah di tegalan, demi suapan kehidupan untuk banyak tanggungjawab di rumah. Terlihat begitu dalam, kepasrahan pada kehidupan dan Sang Maha Agung.
Tidak akan Allah menjadikan, tanpa arti .....
Maka dijalaninya hidup dengan tertib....
Bahkan jika tiba-tiba, diri kehilangan juga apa yang menjadi pijakan, hanya sesaat.
Saat Allah mengembalikan diri, maka tanggungjawab itu kembali menggerakan tubuh rentanya.
"Bu.....kuttitipkan, yang terbaik yang kami punya. Rawatlah, dan jangan sia-siakan dia. Kami pasrahkan semua pada ibu"
Air mata mengalir perlahan, menyeruak di keheningan yang semakin membasahkan kasih sayang.
"Saat semua menistakan kami, Allah memberikan tangan kasih sayangnya lewat Ibu. Yang terbaik kami serahkan, biarlah kami melanjutkan hidup, memasrahkan pada garis diri yang telah ditentukan, bersama mereka"
Air mata semakin deras, disertai kegempaan hati yang semakin membuncah. Aku pun tertunduk, dan memberikan janji dengan sorot mata dan pelukan. kata-kata seakan lenyap tak bersisa.
...............................................................................................................
Ya Allah, Ya Karim...
Atas kehendakmu semua ini ada dan terjadi
Tidak pernah ada yang sia-sia pada semua penciptaan dan rencanaMu
Dan pada ketentuanMu, hamba belajar atas hikmah
Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim....
Jangan berikan aku alasan, untuk memalingkan hati dari mereka
Kecuali telah kau tunjuk tangan lain untuk menggantikanku
Tutupkan mata dan hatiku, atas hitungan tak berarti
Datarkan hatiku atas cemooh dan keburukan kata-kata di luar
Luaskan samudera hatiku pada kelimpahan kasih sayangMu
Yang senantia mengalir tanpa henti
Melimpah tanpa hitungan
SesungguhNya, hanya pada kekuatanMu hamba berlindung
Hanya pada ketentuanMu, hamba berserah
Amin Ya Rabbal Alamin...
Banjarmasin, 04 Mei 2012
Pada denting gitar, sayup-sayup REM mengiringi...
"Everybody hurts
Take comfort in your friends.
Everybody hurts
Don't throw your hand. Oh, no
Don't throw your hand
If you feel like you're alone, no, no, no, you are not alone"
Jumat, 04 Mei 2012
Kamis, 03 Mei 2012
"Diam" yang "keemasan"........
Diam dan hening dalam sebuah peribahasa adalah 'emas'.
Mungkin ya, jika itu untuk memberi ruang bantuan "alamiah" yang akan menyusup ditengah yang terjadi. Semesta, mempunyai porsinya sendiri, untuk membantu menyelesaikan apa yang sedang terjadi, disadari atau tidak.
Waktu serta "diam", menjadi sarana untuk semesta menggetarkan frekuensinya pada yang terjadi, ketika langkah dan akal kita sudah pada titik sulit untuk memahaminya.
Kuncinya adalah "waktu", yang menjadi parameter pengurai, apakah yang terjadi adalah hal yang membutuhkan energi besar untuk diselesaikan, atau mungkin itu hanya sebuah dinamika, yang mengiringi setiap langkah kita. Menjadi stimulus untuk kita bisa memutuskan dan melakukan dengan bijak, atas pemahaman kita sendiri pada yang terjadi.
Maka....Diam adalah "emas", mendapatkan porsinya yang pas
Tetapi pada sisi lain, "Diam" adalah bencana, saat itu merupakan "warning" terhadap kepekaan kita yang telah termandulkan. Jika pada setiap tahapan dalam hidup, kita selalu "diam", pasrah, dan pasif tanpa inisiatif, maka bisa dipastikan, bencana yang dituai tidak hanya akan menimpa kita, tetapi juga semua yang berada di sekeliling kita.
Peran kita menjadi tiada, bahkan terabaikan oleh sikap pasif yang kita berikan, dan memungkinkan akhirnya kita menjadi 'hilang', dari kehidupan kita. Pada kondisi ini, maka tidak ada kearifan yang bisa diambil dari sikap 'diam'.
Maka menentukan 'diam' dan 'responsif' atau bahkan agresif terhadap apa yang terjadi, membutuhkan paramater hati yang paling dalam untuk melakukannya. Tentunya setiap keputusan, akan menuai konsekuensi. Dan konskuensi adalah tanggung jawab yang diambil, atas dedikasi kita pada jalan kehidupan yang kita pilih.
Terngiang sebuah kalimat dari seorang bijak...."Tanggung Jawab itu harus diambil, bahkan pada apa yang "diberikan" pada kita". Dan kesulitan dalam menunaikan tanggungjawab, adalah bagian dari dinamikanya yang tidak perlu dikeluhkan. Dijalani, dicatat dan dianalisa menjadi ukuran untuk koreksi dan kontemplasi. Pada hasil akhirnya, adalah sebagai penentu, masihkah kita layak mengemban "tanggungjawab" tersebut ??
Jika tanggungjawab itu melekat pada kehidupan kita, maka menjadi mustahil untuk mengembalikannya, terus menjalaninya dan mungkin memasuki pada tahap "diam" dan memberi ruang pada "semesta" untuk mendukung adalah jalan keluarnya...dan biarkan semua mengalir pada jalannya.
Tetapi jika tanggungjawab itu adalah pemberian atau sesuatu yang kita cari, maka menjadi bijak kita memikirkan untuk mengembalikannya, dengan sikap yang ksatria mengakui akan ketidakmampuan meneruskan apa yang kita pikul. Parameter ukurannya harus jelas, optimal dalam ikhtiar, terukur dalam hasil, dan menemukan titik lemah yang memang tidak bisa terkoreksi dalam perjalanan ke depan, dalam kemampuan yang kita punya.
Hanya saja, kadang ukuran optimal suatu ikhtiar pun, kita tidak mampu memberikannya. bahkan titik lemah pun kadang bisa menjadi alsan kita untuk menghindar.
Lalu kapankah kita bisa mengatakan selesai atas tanggung jawab...??? Lalu kapankah kita bisa membiarkan ruang "diam" mengambil perannya ?? Bahkan kita kadang tidak membutuhkan jawabannya, karena hati yang akan bicara.
Jika hati sudah selalu gelisah, senyum tidak terkembang dengan ikhlas, maka saatnya kita katakan, SELESAI......
Banjarmasin, 03 Mei 2012
"Responsibility is Taking....."
Maka....Diam adalah "emas", mendapatkan porsinya yang pas
Tetapi pada sisi lain, "Diam" adalah bencana, saat itu merupakan "warning" terhadap kepekaan kita yang telah termandulkan. Jika pada setiap tahapan dalam hidup, kita selalu "diam", pasrah, dan pasif tanpa inisiatif, maka bisa dipastikan, bencana yang dituai tidak hanya akan menimpa kita, tetapi juga semua yang berada di sekeliling kita.
Peran kita menjadi tiada, bahkan terabaikan oleh sikap pasif yang kita berikan, dan memungkinkan akhirnya kita menjadi 'hilang', dari kehidupan kita. Pada kondisi ini, maka tidak ada kearifan yang bisa diambil dari sikap 'diam'.
Maka menentukan 'diam' dan 'responsif' atau bahkan agresif terhadap apa yang terjadi, membutuhkan paramater hati yang paling dalam untuk melakukannya. Tentunya setiap keputusan, akan menuai konsekuensi. Dan konskuensi adalah tanggung jawab yang diambil, atas dedikasi kita pada jalan kehidupan yang kita pilih.
Terngiang sebuah kalimat dari seorang bijak...."Tanggung Jawab itu harus diambil, bahkan pada apa yang "diberikan" pada kita". Dan kesulitan dalam menunaikan tanggungjawab, adalah bagian dari dinamikanya yang tidak perlu dikeluhkan. Dijalani, dicatat dan dianalisa menjadi ukuran untuk koreksi dan kontemplasi. Pada hasil akhirnya, adalah sebagai penentu, masihkah kita layak mengemban "tanggungjawab" tersebut ??
Jika tanggungjawab itu melekat pada kehidupan kita, maka menjadi mustahil untuk mengembalikannya, terus menjalaninya dan mungkin memasuki pada tahap "diam" dan memberi ruang pada "semesta" untuk mendukung adalah jalan keluarnya...dan biarkan semua mengalir pada jalannya.
Tetapi jika tanggungjawab itu adalah pemberian atau sesuatu yang kita cari, maka menjadi bijak kita memikirkan untuk mengembalikannya, dengan sikap yang ksatria mengakui akan ketidakmampuan meneruskan apa yang kita pikul. Parameter ukurannya harus jelas, optimal dalam ikhtiar, terukur dalam hasil, dan menemukan titik lemah yang memang tidak bisa terkoreksi dalam perjalanan ke depan, dalam kemampuan yang kita punya.
Hanya saja, kadang ukuran optimal suatu ikhtiar pun, kita tidak mampu memberikannya. bahkan titik lemah pun kadang bisa menjadi alsan kita untuk menghindar.
Lalu kapankah kita bisa mengatakan selesai atas tanggung jawab...??? Lalu kapankah kita bisa membiarkan ruang "diam" mengambil perannya ?? Bahkan kita kadang tidak membutuhkan jawabannya, karena hati yang akan bicara.
Jika hati sudah selalu gelisah, senyum tidak terkembang dengan ikhlas, maka saatnya kita katakan, SELESAI......
Banjarmasin, 03 Mei 2012
"Responsibility is Taking....."
Sabtu, 28 Januari 2012
Saat Pesta Usai.........
Semua kefanaan pasti akan usai, itu sunatullahnya. Keindahan, kebahagiaan, bahkan kesedihan, pada saatnya akan berakhir. Tetapi rasa memiliki yang berlebihan pada kehidupan ini, kadang membuat kita sulit untuk melepaskan keterikatan pada apapun yang terjadi pada diri kita.
Saat harus berakhir, rasa tak rela untuk melepaskan, air mata pun menjadi pengiringnya. Bahkan ketika kita menyadari sebuah jalan terbaik untuk mengakhiri kesedihan, keburukan, luka dan tersakiti yang berkepanjangan. Begitu beratnya melepaskan kelekatan pada semua yang telah terjadi.
Diperlukan istiqomah dan kedalaman hati untuk bisa berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain. Biarlah airmata menjadi teman, asalkan membuat kelonggaran pada ruang-ruang hati untuk bisa menghirup makna kebaikan dari setiap konsekuensi atas keputusan terbaik. Air mata kadang menjadi obat yang bisa menghapuskan kegundahan akan sebuah kehilangan. Dan ibarat obat, meskipun menyakitkan, tetapi menyembuhkan.
Pada sebuah keputusan terbaik dalam kehidupan, ketulusan, ketabahan menjadi kuncinya, dan biarkan Allah menuntun pada titik akhirnya. Kekuatan kepasrahan, merupakan energi terbesar yang akan membawa kita pada keindahan rahasia Allah atas takdir kita.
Maka, sesulit apapun, untuk sebuah titik terang jalan kebaikan, bertahanlah. Menangislah, jika itu membuat kita lebih baik, tapi tidak mengeluh atau menyalahkan takdir dan ketentuannya. Karena sesungguhnya apapun yang akhirnya kita jalani, itu adalah keputusan yang kita ambil, dan takdir Allah hanya payung selama masa kehidupan kita. Dan penentu jalannya, adalah kita.....baik atau buruk, beserta semua konsekuensinya.
Jakarta, 28 januari 2012....
....Pada kelengangan kota, hari & hati......pada diam yang meresapkan makna & kekuatan......
Saat harus berakhir, rasa tak rela untuk melepaskan, air mata pun menjadi pengiringnya. Bahkan ketika kita menyadari sebuah jalan terbaik untuk mengakhiri kesedihan, keburukan, luka dan tersakiti yang berkepanjangan. Begitu beratnya melepaskan kelekatan pada semua yang telah terjadi.
Diperlukan istiqomah dan kedalaman hati untuk bisa berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain. Biarlah airmata menjadi teman, asalkan membuat kelonggaran pada ruang-ruang hati untuk bisa menghirup makna kebaikan dari setiap konsekuensi atas keputusan terbaik. Air mata kadang menjadi obat yang bisa menghapuskan kegundahan akan sebuah kehilangan. Dan ibarat obat, meskipun menyakitkan, tetapi menyembuhkan.
Pada sebuah keputusan terbaik dalam kehidupan, ketulusan, ketabahan menjadi kuncinya, dan biarkan Allah menuntun pada titik akhirnya. Kekuatan kepasrahan, merupakan energi terbesar yang akan membawa kita pada keindahan rahasia Allah atas takdir kita.
Maka, sesulit apapun, untuk sebuah titik terang jalan kebaikan, bertahanlah. Menangislah, jika itu membuat kita lebih baik, tapi tidak mengeluh atau menyalahkan takdir dan ketentuannya. Karena sesungguhnya apapun yang akhirnya kita jalani, itu adalah keputusan yang kita ambil, dan takdir Allah hanya payung selama masa kehidupan kita. Dan penentu jalannya, adalah kita.....baik atau buruk, beserta semua konsekuensinya.
Jakarta, 28 januari 2012....
....Pada kelengangan kota, hari & hati......pada diam yang meresapkan makna & kekuatan......
Sabtu, 24 Desember 2011
Odong-odong
Pada awal munculnya, dia tak ada bedanya dengan permainan anak lainnya yang ada di tempat-tempat permainan anak umumnya. Miniatur berbagai jenis binatang atau boneka yang akan bergerak jika si penjaja odongi -odong mengayuh sepedanya. Diiringi dengan irama lagu remix kanak-kanak, bahkan kadang dangdutan, anak-anak pun terayun-ayun senang. Akibatnya jarang sekali yang mau naik odong-odong satu periode, selalu minta tambah, setidaknya dua kali, bahkan tak jarang berakhir dengan kegaduhan tangisan paksa. Keriuhan dan suasana suka cita naik odong-odong, menjadi rutinitas yang ditunggu oleh anak-anak, bahkan juga kegembiraan ayah ibunya, meskipun tidak sedikit yang menggerutu karena virusnya melekat erat pada anak-anaknya. Tapi diakui atau tidak, penjaja odong-odong ini, sudah memberikan alternatif hiburan rakyat, yang fasilitasnya belum bisa dipenuhi oleh pemerintah kita.
Berawal dari pasar malam, pasar "tumpah" atau dikenl juga "pasar kaget", kreatifitas pendirinya, yang entah awalnya dari daerah mana, menjadi peluang ekonomi tersendiri bagi yang menggelutinya. Dalam waktu sangat singkat, sudah meng-indonesia. Siapapun penggagasnya, "follower"nya layak mengucapkan terimakasih, karena ini menjadi lahan usaha sektor informal yang cukup prospektif. Sama seperti sektor usaha informal lainnya, penemu itu akhirnya menjadi tidak penting, tapi yang jelas, dia menempati posisi terhormt dalam kreatifitas dan meng-inspirasi serta mengg-influence yang lainnya. Tidak hanya itu, pada perkembangannya munculah peningkatan kreatifitasnya, yang bersumber dari odong-odong klasik ini.
Setelah odong-odong versi statis, yang hanya bergerak jika sepedanya dikayuh, maka muncullah dalam bentuk kereta, yang lebih besar,muat lebih banyak dan berkeliling lebih jauh. Anak-anak pun semakin suka cita, dan ibunya semkin mengerutkan kening untuk mengatur kas bulanan dengan mengalokasikan untuk hiburan naik odong-odong. Ke depannya, tidak tertutup kemungkinan, akan muncul lagi kreatifitas yang lain.
Kondisi ini menjawab fakta bahwa sektor informal tidak akan pernah sepi dari inovasi. Pada saat kepepet, selalu ada jalan keluar yang muncul dari kreatifitas. Maka jangan pernah remehkan mereka yang berkobtribusi positif pada geliat ekonomi bangsa ini, sekecil apapun kontrobusinya. Mereka mandiri,tangguh dan liat ditempa oleh keadaan.
24 Desember 2011
Pada perjalanan kereta ini, mengingatkanku akan kegembiraan kanak-kanak terayun-ayun di odong-odongnya,
Antara Jakarta-Cirebon, pada Cirex penuh kenangan
Berawal dari pasar malam, pasar "tumpah" atau dikenl juga "pasar kaget", kreatifitas pendirinya, yang entah awalnya dari daerah mana, menjadi peluang ekonomi tersendiri bagi yang menggelutinya. Dalam waktu sangat singkat, sudah meng-indonesia. Siapapun penggagasnya, "follower"nya layak mengucapkan terimakasih, karena ini menjadi lahan usaha sektor informal yang cukup prospektif. Sama seperti sektor usaha informal lainnya, penemu itu akhirnya menjadi tidak penting, tapi yang jelas, dia menempati posisi terhormt dalam kreatifitas dan meng-inspirasi serta mengg-influence yang lainnya. Tidak hanya itu, pada perkembangannya munculah peningkatan kreatifitasnya, yang bersumber dari odong-odong klasik ini.
Setelah odong-odong versi statis, yang hanya bergerak jika sepedanya dikayuh, maka muncullah dalam bentuk kereta, yang lebih besar,muat lebih banyak dan berkeliling lebih jauh. Anak-anak pun semakin suka cita, dan ibunya semkin mengerutkan kening untuk mengatur kas bulanan dengan mengalokasikan untuk hiburan naik odong-odong. Ke depannya, tidak tertutup kemungkinan, akan muncul lagi kreatifitas yang lain.
Kondisi ini menjawab fakta bahwa sektor informal tidak akan pernah sepi dari inovasi. Pada saat kepepet, selalu ada jalan keluar yang muncul dari kreatifitas. Maka jangan pernah remehkan mereka yang berkobtribusi positif pada geliat ekonomi bangsa ini, sekecil apapun kontrobusinya. Mereka mandiri,tangguh dan liat ditempa oleh keadaan.
24 Desember 2011
Pada perjalanan kereta ini, mengingatkanku akan kegembiraan kanak-kanak terayun-ayun di odong-odongnya,
Antara Jakarta-Cirebon, pada Cirex penuh kenangan
Sabtu, 26 November 2011
Catatan di penghujung tahun,
Matahari hampir tergelincir, seaat lagi lembaran tahun akan berganti bersama tenggelamnya mentari di peraduan bumi. Pada detik-detik akhir hanya bisa mensyukuri semua kelimpahan barokah, nikmat rejeki, nikmat sehat, dan semua kebaikan yang telah Allah berikan untukku. Pada ujung bergantinya lembaran tahun, harapan ditebarkan seluasnya, akan kebaikan di tahun mendatang.
Semoga Allah mengabulkan setiap hembusan doa kita semua. Aamiin ya rabbalalamin.
Pada kebaikan dan perubahan menjadi lebih baik, doa menjadi penyempurna atas ikhtiar. Pada setiap lembaran baru di pergantian tahun, kesempatan selalu diberikan seluasnya. Allah anugerahi dalam bentuk panjangnya usia dan berbagai jalan menuju kebaikan itu. Tetapi ibarat itu sebuah "map" yang diberikan kepada kita dalam mengarungi luasnya kehidupan, kita tidak akan beranjak kemana-mana jika hanya memandanginya, tanpa menentukan tujuannya.
Jika tujuan sudah kita tetapkan, di setiap pergantian tahun, refleksikan sejenak, memandang pada titik awal, melihat hari ini, dimanakah kita?! Sudahkah bergerak ? Seberapa jauh bergerak? Menuju titik yang kita tuju, ataukah bergerak menuju arah yang berbeda?
Ternyata bergerak saja tidak cukup. Ikhtiar saja tidak cukup, saat semuanya tercerai dari arah yang dituju, titik yang ditentukan sebagai tujuan akhir.
Jalan yang tidak terarah, membuat keringat yang bercucuran, keletihan yang mendalam, bisa tak berujung. Semua berputar pada pusaran ketidakjelasan, tanpa arah, dan hasil akhir tak pasti.
Tetapi tidak pernah ada yang sia-sia, karena bahkan kekhilafan adalah sebuah bekal pengalaman baru. Kesalaham adalah guru terbaik yang akan mengajari kehidupan dengan pendewasaan yang tak ternilai. Pada titik kesadaran, dimana refleksi menjadi medianya, langkah menuju tujuan dijalani dengan lebih hati-hati, lebih bermakna. Dan perjalanan menuju masa depan lebih baik pun menjadi lebih bermakna. Tapi tidak harus kebermaknaan hidup itu selalu dilengkapi dengan kesalahan dan kekhilafan. Tetapi hidup yang harus terantuk dengan kekhilafan pun masih berarti, jika dilengkapi dengan sebuah kesadaran.
Dan hari ini, disini, saat matahari begitu royalnya memberikan sinarnya, seakan ingin sampaikan kata berpisah pada hari akhir di lembaran tahun ini. Matahari yang pada senjanya, ditemani sepoi angin yang sejuk membawa keindahan, menuju tahun baru yang menjanjikan kebaikan yang berlimpah. Seperti indahnya sinar yang diisyaratkannya.
Semoga Allah meridhoi atas perjalanan sampai hari ini, dan langkah panjang yang telah dilalui, menjadi bekal untuk menjalani sisa lembaran kesempatan yang Engkau berikan di depannya.
Arahku pada tujuanku, dan atas ijinMu semua terjadi. Semua mrnjadi sempurna jika ijinMu juga berbalut ridhoMu, menuju terminal akhirku, yang kupancangkan mendekatimu. SEMOGA,
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1433
Barakallahu.,
Banjarmasin, penghujung hari di tahun 1432H
Semoga Allah mengabulkan setiap hembusan doa kita semua. Aamiin ya rabbalalamin.
Pada kebaikan dan perubahan menjadi lebih baik, doa menjadi penyempurna atas ikhtiar. Pada setiap lembaran baru di pergantian tahun, kesempatan selalu diberikan seluasnya. Allah anugerahi dalam bentuk panjangnya usia dan berbagai jalan menuju kebaikan itu. Tetapi ibarat itu sebuah "map" yang diberikan kepada kita dalam mengarungi luasnya kehidupan, kita tidak akan beranjak kemana-mana jika hanya memandanginya, tanpa menentukan tujuannya.
Jika tujuan sudah kita tetapkan, di setiap pergantian tahun, refleksikan sejenak, memandang pada titik awal, melihat hari ini, dimanakah kita?! Sudahkah bergerak ? Seberapa jauh bergerak? Menuju titik yang kita tuju, ataukah bergerak menuju arah yang berbeda?
Ternyata bergerak saja tidak cukup. Ikhtiar saja tidak cukup, saat semuanya tercerai dari arah yang dituju, titik yang ditentukan sebagai tujuan akhir.
Jalan yang tidak terarah, membuat keringat yang bercucuran, keletihan yang mendalam, bisa tak berujung. Semua berputar pada pusaran ketidakjelasan, tanpa arah, dan hasil akhir tak pasti.
Tetapi tidak pernah ada yang sia-sia, karena bahkan kekhilafan adalah sebuah bekal pengalaman baru. Kesalaham adalah guru terbaik yang akan mengajari kehidupan dengan pendewasaan yang tak ternilai. Pada titik kesadaran, dimana refleksi menjadi medianya, langkah menuju tujuan dijalani dengan lebih hati-hati, lebih bermakna. Dan perjalanan menuju masa depan lebih baik pun menjadi lebih bermakna. Tapi tidak harus kebermaknaan hidup itu selalu dilengkapi dengan kesalahan dan kekhilafan. Tetapi hidup yang harus terantuk dengan kekhilafan pun masih berarti, jika dilengkapi dengan sebuah kesadaran.
Dan hari ini, disini, saat matahari begitu royalnya memberikan sinarnya, seakan ingin sampaikan kata berpisah pada hari akhir di lembaran tahun ini. Matahari yang pada senjanya, ditemani sepoi angin yang sejuk membawa keindahan, menuju tahun baru yang menjanjikan kebaikan yang berlimpah. Seperti indahnya sinar yang diisyaratkannya.
Semoga Allah meridhoi atas perjalanan sampai hari ini, dan langkah panjang yang telah dilalui, menjadi bekal untuk menjalani sisa lembaran kesempatan yang Engkau berikan di depannya.
Arahku pada tujuanku, dan atas ijinMu semua terjadi. Semua mrnjadi sempurna jika ijinMu juga berbalut ridhoMu, menuju terminal akhirku, yang kupancangkan mendekatimu. SEMOGA,
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1433
Barakallahu.,
Banjarmasin, penghujung hari di tahun 1432H
Jumat, 25 November 2011
Jendela itu.....
Rumah tanpa jendela.... ????
Apa yang langsung ada dalam benak kita ??
Kumuh.....
Suram....
Menyedihkan.....
Rumah tak sehat......
Dan semua predikat negatif akan menempel pada rumah tak berjendela....
Rumah adalah ranah pribadi, istana dan surga dunia kita. Di dalam rumah, kita berhak menyimpan hal yang tidak ingin orang lain ketahui. Di dalam rumah semua rahasia hidup yang sangat pribadi tersimpan.
Rumah adalah tempat kembali, tempat beristirahat, dan tempat menjemput kedamaian dari berbagai kepenatan hidup.
Lalu bagaimana jika rumah itu terasa suram....rumah tanpa jendela ?? Bukan kedamaian yang akan kita temui, bahkan mungkin kejenuhan lain yang akan menyandera kita, yang akan mementalkan kita, bagai pegas yang melambungkan kita mencari kedamaian di luar rumah.
Jendela mengatur sirkulasi udara, jendela juga sebagai jalan cahaya yang akan menerobos memberikan nuansa keindahan pada rumah. Semakin banyak jendela, rumah terasa semakin indah, semakin asri....semakin sehat.
Maka, jendala menjadi hal penting yang harus ada pada sebuah rumah.
Jendela yang akan menjadi jalan untuk hembusan udara dan cahaya yang akan memperindah rumah.
Jika direfleksikan dalam kehidupan kita, hati adalah rumah, ranah pribadi. Hanya kita dan Tuhan yang tahu apa yang ada didalamnya. Karena itu hati harus indah. Kita harus bisa membangun jendela-jendela hati....jendela kehidupan kita.
Jendela yang akan jadi ventilasi dari semua persoalan hidup. Persoalan yang kita endapkan dalam hati, disimpan dalam "rumah", saat kita tak ingin orang lain mengetahui apa yang menjadi hal pribadi kita.
Jika kita hanya berkutat pada segala yang menjadi rutinitas, pekerjaan, tugas-tugas, dan berbagai persolan hidup yang menghampiri. Jika kita tidak bisa melepaskan sejenak semuanya, dengan membuka jendela-jendela hati kita, niscaya kita akan terjebak dalam kejenuhan yang perlahan akan membuat kita mati.
Kematian yang akan menghampiri kita adalah kematian yang belum sampai pada waktunya. Kematian secara fisik dan psikis.
Jendela hati perlu kita buka, untuk sejenak mengambil nuansa lain agar oksigen kehidupan kita menjadi kaya.
Kita hirup sebanyak-banyak yang kita mampu, dan menjadi bekal untuk melanjutkan rutinitas hidup yang harus dihadapi.
Dengan membuka jendela-jendela hati kita, hidup menjadi semakin berwarna. Kita akan memandang segala sesuatu dari perspektif yang lebih indah. Kita menjadi semakin yakin dan tahu, tidak ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan. Semua pasti ada jalannya. Semua ada waktunya.
Saat kita kembali pada rutinitas, setelah kita menghirup oksigen kehidupan yang lain, kita tahu bahwa hidup tidak melulu bergantung pada satu soal. Bahwa kita harus tetap menghadapi apapun yang menjadi tantangannya, tidak perlu membuat kita terpuruk tanpa ujung.
Selalu ada jalan keluar, bahkan dari hal yang tidak kita duga. Atau setidaknya kita bisa menjadi lebih ringan menghadapi hal-hal dalam kehidupan rutin kita. Melihat berbagai persoalan dari perspektif yang lebih sempurna, lebih lengkap. Tabah dalam menghadapi konsekuensi dan tanggungjawab kehidupan.
Pada sentuhan kekayaan oksigen kehidupan, maka segala persoalan akan dipandang sebagai sisi warna lain dari sebuah garis takdir, dan pasti selalu ada jawaban dari setiap pertanyaannya.
Bagaimana jendela itu kita bangun dan kita buka, sangat bergantung bagaimana kita menginginkan warna hidup kita berjalan. Setiap manusia dikarunia talenta, apapun bentuknya, itu bisa menjadi jalan untuk jendela hidup kita.
Kadang kita membukanya, dengan melepaskan sedikit apa yang menggayuti hidup kita. Dengan memandang lewat jendela hati, pada orang-orang di sekitar, kita tahu, kita tidak pernah sendirian. Pada pandangan hati, bisa dirasakan setiap manusia mempunyai wilayah masalahnya sendiri. Ukuran berat dan tidaknya, tidak bisa kita ukur dan bandingkan, semua mempunyai jalannya sendiri-sendiri. Tidak mungkin kita membanding bagai timbangan, dan hidup bukanlah masalah eksak, yang terukur dalam hitungannya.
Kita juga bisa membuka jendela hati kita, dengan memandang sesuatu yang jauh, yang menggembirakan kita, pada cinta yang begitu berlimpah atas hidup kita, pada rasa syukur atas apa yang telah menghampiri kita, pada talenta yang kita punya, dan pada apa saja yang membuat kita bisa tersenyum.
Senyum adalah hal teringan, termudah yang bisa kita lakukan. Dengan memandang keindahan yang bisa kita bayangkan atas apapun, senyum membuat segala sesutau menjadi ringan, dan oksigen kehidupan pun begitu berlimpah bisa kita hirup.
Menyadari bahwa kita sangat berharga, membuat jendela besar pada hati kita.
Karena kita berharga, maka kita tidak mungkin berputus asa, dan kita akan menggali banyak talenta kehidupan yang diberikan Tuhan pada kita. Bahkan sebuah kegagalan saat kita mencobanya, tidak akan membuat kita patah semangat, karena kita tahu kita sangat berharga.
Berharga karena tidak mungkin Tuhan menciptakan kita tanpa maksud baik.
Berharga karena kita mempunyai orang-orang yang dengan tulus mencintai kita.
Berharga karena Tuhan masih memberi amanah hidup, memberikan panjangnya usia, dan kesempatan untuk menuntaskan apapun yang menjadi suratan takdir kita dengan penuh tanggung jawab....
Maka jika kita ingin menjadi pemenang dalam hidup kita, bukalah sebanyak mungkin jendela hati kita, dan tersenyumlah bersama kelimpahan oksigen kehidupan yang bisa kita hirup karenanya.
Dan kita pun akan selalu tersenyum, melanjutkan hidup, sampai titik akhir Tuhan menghentikannya....
Banjarmasin, 25 November 2011
Ditulis dengan penuh cinta
Apa yang langsung ada dalam benak kita ??
Kumuh.....
Suram....
Menyedihkan.....
Rumah tak sehat......
Dan semua predikat negatif akan menempel pada rumah tak berjendela....
Rumah adalah ranah pribadi, istana dan surga dunia kita. Di dalam rumah, kita berhak menyimpan hal yang tidak ingin orang lain ketahui. Di dalam rumah semua rahasia hidup yang sangat pribadi tersimpan.
Rumah adalah tempat kembali, tempat beristirahat, dan tempat menjemput kedamaian dari berbagai kepenatan hidup.
Lalu bagaimana jika rumah itu terasa suram....rumah tanpa jendela ?? Bukan kedamaian yang akan kita temui, bahkan mungkin kejenuhan lain yang akan menyandera kita, yang akan mementalkan kita, bagai pegas yang melambungkan kita mencari kedamaian di luar rumah.
Jendela mengatur sirkulasi udara, jendela juga sebagai jalan cahaya yang akan menerobos memberikan nuansa keindahan pada rumah. Semakin banyak jendela, rumah terasa semakin indah, semakin asri....semakin sehat.
Maka, jendala menjadi hal penting yang harus ada pada sebuah rumah.
Jendela yang akan menjadi jalan untuk hembusan udara dan cahaya yang akan memperindah rumah.
Jika direfleksikan dalam kehidupan kita, hati adalah rumah, ranah pribadi. Hanya kita dan Tuhan yang tahu apa yang ada didalamnya. Karena itu hati harus indah. Kita harus bisa membangun jendela-jendela hati....jendela kehidupan kita.
Jendela yang akan jadi ventilasi dari semua persoalan hidup. Persoalan yang kita endapkan dalam hati, disimpan dalam "rumah", saat kita tak ingin orang lain mengetahui apa yang menjadi hal pribadi kita.
Jika kita hanya berkutat pada segala yang menjadi rutinitas, pekerjaan, tugas-tugas, dan berbagai persolan hidup yang menghampiri. Jika kita tidak bisa melepaskan sejenak semuanya, dengan membuka jendela-jendela hati kita, niscaya kita akan terjebak dalam kejenuhan yang perlahan akan membuat kita mati.
Kematian yang akan menghampiri kita adalah kematian yang belum sampai pada waktunya. Kematian secara fisik dan psikis.
Jendela hati perlu kita buka, untuk sejenak mengambil nuansa lain agar oksigen kehidupan kita menjadi kaya.
Kita hirup sebanyak-banyak yang kita mampu, dan menjadi bekal untuk melanjutkan rutinitas hidup yang harus dihadapi.
Dengan membuka jendela-jendela hati kita, hidup menjadi semakin berwarna. Kita akan memandang segala sesuatu dari perspektif yang lebih indah. Kita menjadi semakin yakin dan tahu, tidak ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan. Semua pasti ada jalannya. Semua ada waktunya.
Saat kita kembali pada rutinitas, setelah kita menghirup oksigen kehidupan yang lain, kita tahu bahwa hidup tidak melulu bergantung pada satu soal. Bahwa kita harus tetap menghadapi apapun yang menjadi tantangannya, tidak perlu membuat kita terpuruk tanpa ujung.
Selalu ada jalan keluar, bahkan dari hal yang tidak kita duga. Atau setidaknya kita bisa menjadi lebih ringan menghadapi hal-hal dalam kehidupan rutin kita. Melihat berbagai persoalan dari perspektif yang lebih sempurna, lebih lengkap. Tabah dalam menghadapi konsekuensi dan tanggungjawab kehidupan.
Pada sentuhan kekayaan oksigen kehidupan, maka segala persoalan akan dipandang sebagai sisi warna lain dari sebuah garis takdir, dan pasti selalu ada jawaban dari setiap pertanyaannya.
Bagaimana jendela itu kita bangun dan kita buka, sangat bergantung bagaimana kita menginginkan warna hidup kita berjalan. Setiap manusia dikarunia talenta, apapun bentuknya, itu bisa menjadi jalan untuk jendela hidup kita.
Kadang kita membukanya, dengan melepaskan sedikit apa yang menggayuti hidup kita. Dengan memandang lewat jendela hati, pada orang-orang di sekitar, kita tahu, kita tidak pernah sendirian. Pada pandangan hati, bisa dirasakan setiap manusia mempunyai wilayah masalahnya sendiri. Ukuran berat dan tidaknya, tidak bisa kita ukur dan bandingkan, semua mempunyai jalannya sendiri-sendiri. Tidak mungkin kita membanding bagai timbangan, dan hidup bukanlah masalah eksak, yang terukur dalam hitungannya.
Kita juga bisa membuka jendela hati kita, dengan memandang sesuatu yang jauh, yang menggembirakan kita, pada cinta yang begitu berlimpah atas hidup kita, pada rasa syukur atas apa yang telah menghampiri kita, pada talenta yang kita punya, dan pada apa saja yang membuat kita bisa tersenyum.
Senyum adalah hal teringan, termudah yang bisa kita lakukan. Dengan memandang keindahan yang bisa kita bayangkan atas apapun, senyum membuat segala sesutau menjadi ringan, dan oksigen kehidupan pun begitu berlimpah bisa kita hirup.
Menyadari bahwa kita sangat berharga, membuat jendela besar pada hati kita.
Karena kita berharga, maka kita tidak mungkin berputus asa, dan kita akan menggali banyak talenta kehidupan yang diberikan Tuhan pada kita. Bahkan sebuah kegagalan saat kita mencobanya, tidak akan membuat kita patah semangat, karena kita tahu kita sangat berharga.
Berharga karena tidak mungkin Tuhan menciptakan kita tanpa maksud baik.
Berharga karena kita mempunyai orang-orang yang dengan tulus mencintai kita.
Berharga karena Tuhan masih memberi amanah hidup, memberikan panjangnya usia, dan kesempatan untuk menuntaskan apapun yang menjadi suratan takdir kita dengan penuh tanggung jawab....
Maka jika kita ingin menjadi pemenang dalam hidup kita, bukalah sebanyak mungkin jendela hati kita, dan tersenyumlah bersama kelimpahan oksigen kehidupan yang bisa kita hirup karenanya.
Dan kita pun akan selalu tersenyum, melanjutkan hidup, sampai titik akhir Tuhan menghentikannya....
Banjarmasin, 25 November 2011
Ditulis dengan penuh cinta
Selasa, 22 November 2011
Kesempatan Kedua....
Kesempatan kedua adalah sebuah ungkapan masa depan.
Sebuah jalan keluar dari keadaan yang sulit dimasa kini.
Itu berarti adalah harapan......
Seorang sahabat menyampaikan sebuah kabar, bahwa dia akan kembali membuka gerbang rumah tangga bersama pria yang membuatnya tergugah untuk meraih kesempatan kedua dalam kehidupan perkawinannya. Sebelumnya dia bersimpuh dan berjanji untuk menutup hatinya, atas nama cinta pada almarhum suaminya. Tetapi ketika waktu berjalan, dan Tuhan mentakdirkan lain, maka jalan menuju masa depan yang lebih berwarna menjadi pilihannya.
Kebahagiaannya menjadi lebih sempurna, tanpa harus mengabaikan cinta kasih dan perhatiannya pada anak-anaknya dari almarhum suaminya. Dengan lirih dia katakan, masa depan pada keabadiaan nanti, biarlah hanya menjadi rahasia Allah, bersama siapa dia di surgaNya kelak. Yang dia tahu saat ini, hidupnya menjadi kembali indah, dan tidak terkurung pada kesedihan yang terus menerus membelenggunya. Kesedihan yang memang dia kehendaki sendiri untuk tidak pergi dari hidupnya.
Dalam pembicaraan dari hati ke hati, proses untuk meraih kesempatan kedua, pada akhirnya adalah proses alamiah. Perjuangan terbesar untuk membukanya adalah memerangi perasaan bersalah dalam hatinya.
Bukan ...bukan pada anak-anaknya, tapi pada hati, pada janji yang telah dia tasbihkan.
Karena ternyata anak-anak menjadi lebih bahagia, ceria, didampingi oleh ibu yang juga bahagia. Ketika kesedihan dibiarkan terkurung dalam hatinya, maka kesenduan dan sensitifitas dari dirinya membawa pengaruh buruk. Benar kata orang bijak, hanya orang yang bahagia yang berhak membahagiaakan orang lain.
Akhirnya dia berani untuk mengambil kesempatan itu, menjadi bahagia bersama kehidupan yang baru, tanpa harus melupakan masa lalu.
Masa lalu tak akan pernah hilang, karena itu adalah bagian dari simpul hidupnya yang akan selalu ada. Masa depan biarlah Tuhan yang tentukan......
Seorang sahabat lain, mengambil kesempatan kedua dengan berhijrah dalam arti yang harfiah. Dia pergi meninggalkan masa lalu, meninggalkan kampung halaman dan orang-orang yang membuatnya terkurung pada ketidakberdayaan.
Pada kesalahan yang dilakukan di masa lalunya, Tuhan masih memberi umur panjang, dan dia akhirnya menyadari bahwa Tuhan memberi waktu untuk melakukan hal terbaik dan belajar dari kesalahan di masa lalu. Tuhan membuka gerbang kesempatan kedua.
Dia meraihnya dengan berhijrah meninggalkan segalanya. Jika dia masih berada di tempat, maka dia tidak bisa memaafkan dirinya. Semua bagian hidup,lingkungannya, hanya menggambarkan semua kesalahan yang telah dilakukannya. Seakan tak pernah ada celah sedikit pun baginya untuk menghirup udara baru.
Di masa lalu, di tempat yang lama, dia adalah sampah tanpa harga lagi. Untuk orang-orang terdekat pun dia bagai tak ada artinya lagi. Maka dia harus pergi, berhijrah, memberi kesempatan pada dirinya untuk bisa meraih kehidupan baru. Jika memungkinkan, pada masa depan, dia bisa menebus semua kesalahannya....pada orang-orang, pada dunia dan pada waktu, teruatam pada Tuhan.
Biarlah masa lalu menghukumnya pada cacian akan kekhilafannya, tetapi selagi hayat masih dikandung badan, maka dia harus berupaya untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya.
Mungkin kebaikannya hari ini tidak akan menghapus kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Tetapi pada masa depan, sejarah hidup akan menuliskan, bahwa dia terus berupaya untuk memperbaikinya. Pada gerbang akhirnya, dia berharap Tuhan membukakan pintu khusnul khatimah untuknya.
Untuk bangkit dari keadaan terpuruk, memerangi diri sendiri selalu menjadi tantangan terbesarnya. Tetapi pada akhirnya, hidup kita adalah milik kita. Orang lain hanyalah bagian dari interaksi sosial kita.
Orang lain, juga rasa bersalah kita, jangan terlalu lama diberi kesempatan untuk terus menerus mengurung kita pada sebuah stigma. Kemerdekaan untuk memilih membutuhkan kekuatan luar biasa dari diri kita. Berubah atau terus tenggelam dalam kesedihan, kesalahan dan keadaan yang sulit.
Untuk bangkit pada keadaan apapun, kita membutuhkan hal kecil yang bisa membuat kita percaya bahwa kita mampu untuk bangkit dan meraih harapan baru. Faktor orang lain hanyalah stimulus, yang terbesar untuk menentukannya ada dalam diri kita, dan Tuhan selalu memberi kesempatan kedua.....jika kita mau.
Maka pada akhirnya tidak ada sesuatu yang serba terlalu dalam hidup ini.
Tidak ada kesedihan dan duka yang terlalu, yang bisa mengubur kita dalam kematian yang belum sampai waktunya.
Tidak ada kesalahan dan kekhilafan yang terlalu, yang membenamkan kita pada lumpur hitam tidak berkesudahan
Tidak ada kebahagiaan yang terlalu, yang membuat hati kita melupakan berlalunya waktu.
Semua akan berlalu, jika kita menginginkan dan memilihnya untuk berlalu. Selalu ada kesempatan kedua untuk bisa menyambut masa depan lebih baik.
Mau atau tidak kita meraihnya, hanya kita yang bisa menentukan, dengan kekuatan kita, karena Tuhan selalu memberi kesempatan, selebihnya itu adalah pilihan....
Dan pada sebuah quote yang dikirim pagi ini, memberi energi yang luar biasa, untuk menentukan pilihan hidup.....
"....Life is a matter of CHOICE...you may choose to be HAPPY or NOT, it is definitly your CHOICE !!" (BS)
Maka.....pilihan sudah ditentukan......I WANNA BE HAPPY....ALWAYS....!!!!
Banjarmasin, 22 November 2012
Sebuah jalan keluar dari keadaan yang sulit dimasa kini.
Itu berarti adalah harapan......
Seorang sahabat menyampaikan sebuah kabar, bahwa dia akan kembali membuka gerbang rumah tangga bersama pria yang membuatnya tergugah untuk meraih kesempatan kedua dalam kehidupan perkawinannya. Sebelumnya dia bersimpuh dan berjanji untuk menutup hatinya, atas nama cinta pada almarhum suaminya. Tetapi ketika waktu berjalan, dan Tuhan mentakdirkan lain, maka jalan menuju masa depan yang lebih berwarna menjadi pilihannya.
Kebahagiaannya menjadi lebih sempurna, tanpa harus mengabaikan cinta kasih dan perhatiannya pada anak-anaknya dari almarhum suaminya. Dengan lirih dia katakan, masa depan pada keabadiaan nanti, biarlah hanya menjadi rahasia Allah, bersama siapa dia di surgaNya kelak. Yang dia tahu saat ini, hidupnya menjadi kembali indah, dan tidak terkurung pada kesedihan yang terus menerus membelenggunya. Kesedihan yang memang dia kehendaki sendiri untuk tidak pergi dari hidupnya.
Dalam pembicaraan dari hati ke hati, proses untuk meraih kesempatan kedua, pada akhirnya adalah proses alamiah. Perjuangan terbesar untuk membukanya adalah memerangi perasaan bersalah dalam hatinya.
Bukan ...bukan pada anak-anaknya, tapi pada hati, pada janji yang telah dia tasbihkan.
Karena ternyata anak-anak menjadi lebih bahagia, ceria, didampingi oleh ibu yang juga bahagia. Ketika kesedihan dibiarkan terkurung dalam hatinya, maka kesenduan dan sensitifitas dari dirinya membawa pengaruh buruk. Benar kata orang bijak, hanya orang yang bahagia yang berhak membahagiaakan orang lain.
Akhirnya dia berani untuk mengambil kesempatan itu, menjadi bahagia bersama kehidupan yang baru, tanpa harus melupakan masa lalu.
Masa lalu tak akan pernah hilang, karena itu adalah bagian dari simpul hidupnya yang akan selalu ada. Masa depan biarlah Tuhan yang tentukan......
Seorang sahabat lain, mengambil kesempatan kedua dengan berhijrah dalam arti yang harfiah. Dia pergi meninggalkan masa lalu, meninggalkan kampung halaman dan orang-orang yang membuatnya terkurung pada ketidakberdayaan.
Pada kesalahan yang dilakukan di masa lalunya, Tuhan masih memberi umur panjang, dan dia akhirnya menyadari bahwa Tuhan memberi waktu untuk melakukan hal terbaik dan belajar dari kesalahan di masa lalu. Tuhan membuka gerbang kesempatan kedua.
Dia meraihnya dengan berhijrah meninggalkan segalanya. Jika dia masih berada di tempat, maka dia tidak bisa memaafkan dirinya. Semua bagian hidup,lingkungannya, hanya menggambarkan semua kesalahan yang telah dilakukannya. Seakan tak pernah ada celah sedikit pun baginya untuk menghirup udara baru.
Di masa lalu, di tempat yang lama, dia adalah sampah tanpa harga lagi. Untuk orang-orang terdekat pun dia bagai tak ada artinya lagi. Maka dia harus pergi, berhijrah, memberi kesempatan pada dirinya untuk bisa meraih kehidupan baru. Jika memungkinkan, pada masa depan, dia bisa menebus semua kesalahannya....pada orang-orang, pada dunia dan pada waktu, teruatam pada Tuhan.
Biarlah masa lalu menghukumnya pada cacian akan kekhilafannya, tetapi selagi hayat masih dikandung badan, maka dia harus berupaya untuk melakukan yang terbaik dalam hidupnya.
Mungkin kebaikannya hari ini tidak akan menghapus kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Tetapi pada masa depan, sejarah hidup akan menuliskan, bahwa dia terus berupaya untuk memperbaikinya. Pada gerbang akhirnya, dia berharap Tuhan membukakan pintu khusnul khatimah untuknya.
Untuk bangkit dari keadaan terpuruk, memerangi diri sendiri selalu menjadi tantangan terbesarnya. Tetapi pada akhirnya, hidup kita adalah milik kita. Orang lain hanyalah bagian dari interaksi sosial kita.
Orang lain, juga rasa bersalah kita, jangan terlalu lama diberi kesempatan untuk terus menerus mengurung kita pada sebuah stigma. Kemerdekaan untuk memilih membutuhkan kekuatan luar biasa dari diri kita. Berubah atau terus tenggelam dalam kesedihan, kesalahan dan keadaan yang sulit.
Untuk bangkit pada keadaan apapun, kita membutuhkan hal kecil yang bisa membuat kita percaya bahwa kita mampu untuk bangkit dan meraih harapan baru. Faktor orang lain hanyalah stimulus, yang terbesar untuk menentukannya ada dalam diri kita, dan Tuhan selalu memberi kesempatan kedua.....jika kita mau.
Maka pada akhirnya tidak ada sesuatu yang serba terlalu dalam hidup ini.
Tidak ada kesedihan dan duka yang terlalu, yang bisa mengubur kita dalam kematian yang belum sampai waktunya.
Tidak ada kesalahan dan kekhilafan yang terlalu, yang membenamkan kita pada lumpur hitam tidak berkesudahan
Tidak ada kebahagiaan yang terlalu, yang membuat hati kita melupakan berlalunya waktu.
Semua akan berlalu, jika kita menginginkan dan memilihnya untuk berlalu. Selalu ada kesempatan kedua untuk bisa menyambut masa depan lebih baik.
Mau atau tidak kita meraihnya, hanya kita yang bisa menentukan, dengan kekuatan kita, karena Tuhan selalu memberi kesempatan, selebihnya itu adalah pilihan....
Dan pada sebuah quote yang dikirim pagi ini, memberi energi yang luar biasa, untuk menentukan pilihan hidup.....
"....Life is a matter of CHOICE...you may choose to be HAPPY or NOT, it is definitly your CHOICE !!" (BS)
Maka.....pilihan sudah ditentukan......I WANNA BE HAPPY....ALWAYS....!!!!
Banjarmasin, 22 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)