Tuhan....
Dalam keheningan malam....bersama sang purnama dan bintang..
Aku memandangi lingkaran kambium kehidupanku
Betapa semua tertata dalam putaran takdir dan kehendakMu
Betapa berwarnanya hidupku...
Semua berpendar menghiasi undakan legendaku
Terimalah berjuta syukur yang kupanjatkan padaMu
Tuhan....
Jika esok mungkin bukan milikku lagi
Ijinkan hari ini aku menyelesaikan yang menjadi amanahku
Jika esok tidak pernah datang untukku lagi
Ijinkan aku sedikit mengurai mimpiku, sesaat saja.....
Tuhan....
Jika aku harus bergegas, karena waktuku tak banyak lagi
Ijinkan sedikit ruang bagiku untuk menyempurnakan senyumku
Sesaat saja dari waktu yang tersisa...
Sebentar saja....
Dan ketika kesempurnaan itu hanya milikMu
Maka ijinkan aku memeluk kesempurnaan kebahagiaan dalam kesempitan pikirku
Ijinkanlah.....
Dan pada akhirnya...
Ketika esokku tak ada lagi...
Maka aku akan kembali ke sisiMu
Dengan secercah senyuman kebahagiaan
Dengan keikhlasan...
Ijinkanlah......
Dinihari yang sepi....di Banjarmasin,
30 Januari 2010
Sabtu, 30 Januari 2010
Selasa, 19 Januari 2010
Lubang Mimpi.....
Tuhan....
Setiap yang Kau kehendaki....tentunya yang terbaik untukku
Setiap yang Kau putuskan.....tentunya yang tepat bagiku
Setiap yang Kau hembuskan....tentunya untuk mengisi jiwaku
Maka...apa yang kau tasbihkan...akan tertasbihkan pada diriku..
Aku ikhlas dan selalu bersyukur atas apa yang menjadi takdirMu untukku....
Tetapi....dalam kefakiran ilmuku...
Kadang aku masih harus selalu meraba dan bertanya
Apakah semua yang tergetar di hati...yang terasa di jiwa...juga kehendakMu ??
Kadang begitu sulit memilah, yang menjadi kehendakmu atau fatamorgana ??
Sebongkah Lubang di hati selalu mengharapkan terpuasi dengan segala angan dan mimpi yang kutitipkan di bintangMu....
Lubang di hati selalu bergetar menanti....bilakah tiba saatnya...
Terus dan terus...terbawa dalam undakan usia...
Menjadi sebuah mimpi indah yang abadi...
Yang dengan setia kutitipkan dalam genggaman bintangMu
Ketika tiba-tiba semua hadir bagai menjadi nyata...
Sebuah ketakjuban maha hebat menggetarkan sanubari..
Begitu nyata...begitu detail.....Dejavu...
Tapi mimpi adalah mimpi.....
Walaupun menyapa seakan nyata...tetaplah akan berakhir dengan mimpi..
Tapi kumohon....berilah ruang dan waktu....
Untuk menggenapkan getaran harapan, yang telah terbawa sepanjang usia
Melangkapi keyakinan dalam kepasrahan....
Sebelum kembali pada undakan takdirMu....
Di sepanjang sisa usiaku...
Dan....biarkan aku meyakini...Doaku terjawab sudah....!!!!
Dini hari di Balikpapan, 19 Januari 2010
.....I'm still recalling things you said to make me feel alright
I carried them with me today, Now......
(As I Lay Me Down To Sleep, Sophie B. Hawkins)
Setiap yang Kau kehendaki....tentunya yang terbaik untukku
Setiap yang Kau putuskan.....tentunya yang tepat bagiku
Setiap yang Kau hembuskan....tentunya untuk mengisi jiwaku
Maka...apa yang kau tasbihkan...akan tertasbihkan pada diriku..
Aku ikhlas dan selalu bersyukur atas apa yang menjadi takdirMu untukku....
Tetapi....dalam kefakiran ilmuku...
Kadang aku masih harus selalu meraba dan bertanya
Apakah semua yang tergetar di hati...yang terasa di jiwa...juga kehendakMu ??
Kadang begitu sulit memilah, yang menjadi kehendakmu atau fatamorgana ??
Sebongkah Lubang di hati selalu mengharapkan terpuasi dengan segala angan dan mimpi yang kutitipkan di bintangMu....
Lubang di hati selalu bergetar menanti....bilakah tiba saatnya...
Terus dan terus...terbawa dalam undakan usia...
Menjadi sebuah mimpi indah yang abadi...
Yang dengan setia kutitipkan dalam genggaman bintangMu
Ketika tiba-tiba semua hadir bagai menjadi nyata...
Sebuah ketakjuban maha hebat menggetarkan sanubari..
Begitu nyata...begitu detail.....Dejavu...
Tapi mimpi adalah mimpi.....
Walaupun menyapa seakan nyata...tetaplah akan berakhir dengan mimpi..
Tapi kumohon....berilah ruang dan waktu....
Untuk menggenapkan getaran harapan, yang telah terbawa sepanjang usia
Melangkapi keyakinan dalam kepasrahan....
Sebelum kembali pada undakan takdirMu....
Di sepanjang sisa usiaku...
Dan....biarkan aku meyakini...Doaku terjawab sudah....!!!!
Dini hari di Balikpapan, 19 Januari 2010
.....I'm still recalling things you said to make me feel alright
I carried them with me today, Now......
(As I Lay Me Down To Sleep, Sophie B. Hawkins)
Kamis, 26 November 2009
Menembus batas logika...menuju pertautan cintaMu yang agung...
Labbaik Allahumma labbaik....
Aku datang memenuhi panggilanMu...
Aku datang memenuhi panggilanMu...
Dan saat ini di padang arafah, para tamu Allah tafakur memohon ampunan.
Sebuah kontemplasi yang khusuk, ditempat yang penuh berkah, atas undangan Sang Maha Berkehendak.
Bulir-bulir airmata berjatuhan, rentangan perjalanan kehidupan tergambar dengan sendirinya.
Beribu ampunan dipanjatkan, bergetar hingga ke ujung sanubari...terhempas dalam rasa penantian akan sebuah pengampunan...
Beribu harapan pun di sampaikan, akan sisa perjalan kehidupan yang penuh barokah.
Perjalanan hidup yang diridhoiMu, sampai menuju titik akhirnya, dimana gerbang syurgaMu menantinya.....
Sebuah harapan akan akhir yang khusnul khatimah, menjadi cita-cita tertinggi.
Dimana pintu rumahMu menjadi jalan untuk menggapai harapan itu....
Berdoa di Multazam, bersimpuh di Raudah....dengan harapan syafaat akan munajat yang agung....
Semoga Engkau mengabulkan...
Ketika pertautan cinta denganMu menjadi sebuah spirit...
Maka tidak ada rintangan yang begitu berarti yang bisa menghalangi..
Bahkan jika kasat mata, harta duniawi tak ada disandang badan...
Pertautan cintaMu yang agung mematahkan segala logika..
Sehingga cita dan keinginan selalu didengungkan, untuk datang memenuhi panggilanMu wahai Sang Maha..
Ketika tanganMu berkehendak....apalah arti sebuah angka-angka...
Berduyun-duyun kami memenuhi panggilanMU
Dari seluruh arah mata angin, kami datang dan melafadz-kan Talbiyah...
Berjalan kaki....darat ...laut dan udara...sebuah perjalanan yang penuh keindahan..
Kami berlari menuju rentangan kedua tanganMu
Berlomba untuk dipeluk dalam ridhoMu
Dan jika tiba saat kami kembali...
Kerinduan in tak pernah usai
Untuk kembali mendapat penggilanMU...
Jika kerinduan ini begitu bergejolak...
Apakah layak kau persalahkan...dengan berhitung akan amalan dan prasangka-prasangka??
Sebuah langkah menuju kerinduan ini...
tentunya sepenuhnya adalah atas ijinNya...atas ridhoNya..
Maka berdiamlah engkau...akan ketidak tahuan rahasia cintaNya...
Maka...ketika kerinduan akan tautan cintaMu terus bergetar...
Yang akan terjadi...terjadilah...
Bahkan jika engkau sulit untuk memahaminya...
Maka beristighfarlah, dan merintihlah dalam harapan, agar tiba masamu..
Kuncilah mulutmu dari keinginan untuk melepas cercaan, dan syak wasangka penuh praduga..terhadap hamba yang mendapat panggilanNya...bahkan untuk berkali-kali..
Dan biarkanlah TakdirNya membimbingmu...untuk berpeluk dalam keindahan panggilanNya...
Berikhtiarlah...dalam nyata...dan kepasrahan yang mendalam....
Andai...kembali tiba waktuku....kutunggu kembali panggilanMu....Amin..
Banjarmasin, 26 November 2009
......mengenang Arafah......
(Semoga spirit ini selalu melekat, menuju Khusnul Khatimah)
Aku datang memenuhi panggilanMu...
Aku datang memenuhi panggilanMu...
Dan saat ini di padang arafah, para tamu Allah tafakur memohon ampunan.
Sebuah kontemplasi yang khusuk, ditempat yang penuh berkah, atas undangan Sang Maha Berkehendak.
Bulir-bulir airmata berjatuhan, rentangan perjalanan kehidupan tergambar dengan sendirinya.
Beribu ampunan dipanjatkan, bergetar hingga ke ujung sanubari...terhempas dalam rasa penantian akan sebuah pengampunan...
Beribu harapan pun di sampaikan, akan sisa perjalan kehidupan yang penuh barokah.
Perjalanan hidup yang diridhoiMu, sampai menuju titik akhirnya, dimana gerbang syurgaMu menantinya.....
Sebuah harapan akan akhir yang khusnul khatimah, menjadi cita-cita tertinggi.
Dimana pintu rumahMu menjadi jalan untuk menggapai harapan itu....
Berdoa di Multazam, bersimpuh di Raudah....dengan harapan syafaat akan munajat yang agung....
Semoga Engkau mengabulkan...
Ketika pertautan cinta denganMu menjadi sebuah spirit...
Maka tidak ada rintangan yang begitu berarti yang bisa menghalangi..
Bahkan jika kasat mata, harta duniawi tak ada disandang badan...
Pertautan cintaMu yang agung mematahkan segala logika..
Sehingga cita dan keinginan selalu didengungkan, untuk datang memenuhi panggilanMu wahai Sang Maha..
Ketika tanganMu berkehendak....apalah arti sebuah angka-angka...
Berduyun-duyun kami memenuhi panggilanMU
Dari seluruh arah mata angin, kami datang dan melafadz-kan Talbiyah...
Berjalan kaki....darat ...laut dan udara...sebuah perjalanan yang penuh keindahan..
Kami berlari menuju rentangan kedua tanganMu
Berlomba untuk dipeluk dalam ridhoMu
Dan jika tiba saat kami kembali...
Kerinduan in tak pernah usai
Untuk kembali mendapat penggilanMU...
Jika kerinduan ini begitu bergejolak...
Apakah layak kau persalahkan...dengan berhitung akan amalan dan prasangka-prasangka??
Sebuah langkah menuju kerinduan ini...
tentunya sepenuhnya adalah atas ijinNya...atas ridhoNya..
Maka berdiamlah engkau...akan ketidak tahuan rahasia cintaNya...
Maka...ketika kerinduan akan tautan cintaMu terus bergetar...
Yang akan terjadi...terjadilah...
Bahkan jika engkau sulit untuk memahaminya...
Maka beristighfarlah, dan merintihlah dalam harapan, agar tiba masamu..
Kuncilah mulutmu dari keinginan untuk melepas cercaan, dan syak wasangka penuh praduga..terhadap hamba yang mendapat panggilanNya...bahkan untuk berkali-kali..
Dan biarkanlah TakdirNya membimbingmu...untuk berpeluk dalam keindahan panggilanNya...
Berikhtiarlah...dalam nyata...dan kepasrahan yang mendalam....
Andai...kembali tiba waktuku....kutunggu kembali panggilanMu....Amin..
Banjarmasin, 26 November 2009
......mengenang Arafah......
(Semoga spirit ini selalu melekat, menuju Khusnul Khatimah)
Kamis, 19 November 2009
Wadon…Indon…Sebuah Distorsi yang Harus Diluruskan…
"Ooooh ... Wadon cirebon dong ??!!"
Sebuah kalimat biasa, yang diharapkan berarti biasa juga, apalagi jika dikaitkan dengan pengertian harfiah tata bahasanya. Tetapi jika kalimat tadi diucapkan oleh seseorang, dengan seringai senyum penuh arti yang berkonotasi melecehkan', maka tidak terhindarkan lagi, reaksinya adalah "ketersinggungan' yang amat sangat....
Itulah yang terjadi padaku. Jika tidak menjunjung tinggi etika, saat itu juga rasanya ingin memuntabkan kemarahan, dan membalas dengan kalimat-kalimat keji bernada menuduh.... Tetapi untungnya akal sehat masih bs mengendalikan ketersinggungan itu. Dan saat reda, baru mencoba memahami, kesalahan tidak pada yang menyampaikan, tetapi pada "pengalaman" yang terekam olehnya.
'Wadon', yang berarti perempuan, secara harfiah mempunyai arti luhur, sebagaimana padanannya. Tetapi dalam perkembangannya, mengalami distorsi sedemikian rupa, sehingga jika diucapkan pada konteks tertentu, berarti sangat negatif. Kita tidak bisa menutup mata dan kenyataan, di jalur pantura, di daerah tertentu, budaya 'wadon' sebagai penghibur menjadi fenomenal. Bahkan ada sebuah daerah, dikenal sebagai sentra pemasok 'wadon' untuk tempat-tempat hiburan di ibukota, baik yang terpaksa maupun yang sukarela. Bahkan pada budaya dan habit yang telah menggurita mereka, menjadi 'wadon' adalah cita-cita, khususnya jika itu berarti menjadi 'star', mendapat 'kekayaan' dan berbagai alasan yang sulit diterima dalam tataran normal juga norma universal. Itulah kenyataannya, dari sebuah keyakinan terhadap hal yang salah akan pemenuhan kebutuhan hidup....
Tetapi itu bukan potret perempuan Cirebon, bukan budaya Cirebon....dan yang jelas, itu bukan di wilayah Cirebon. Sangat jauh nun di pesisir pantai sana.... Tetapi ketika penyebutan Cirebon sebagai daerah asal adalah kebanggaan bagi mereka, atau mungkin sekedar kemudahan karena Cirebon adalah kota besar, maka generalisasi pun dimulai. Bagai pepatah, rusak susu sebelanga, hanya karena nila setitik....
Ini bukan ketersinggungan tanpa alasan. Ini adalah upaya untuk menjelaskan, yang harus dilakukan di- Pe aR kan. Cirebon adalah pusat sejarah, dimana di sinilah salah satu pusat penyebaran agama Islam di jawa, selain Banten dan Sunda Kelapa. Sejarah meninggalkan jejaknya di sini, dengan adanya Kerajaan Islam, Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Di Cirebon pula terdapat jejak sejarah para wali, imam besar agama Islam. Tercatat ada Sunan Gunung Jati dan bahkan Sunan Kalijaga pun melakukan tetirah di kota ini, dalam rangka bermunajat pada Allah SWT, yang dikenal dengan petilasan Sunan Kalijaga....
Jadi dilihat dari sudut manapun, tidak ada pembenaran sejarah dan budaya terhadap "perilaku a-moral" itu, yang bisa dikaitkan dengan generalisasi terhadap distorsi kata 'wadon'. Ini hanya bagian dari anomali sebagian masyarakat, dan selalu ada di setiap daerah manapun.
Dalam konteks yang lebih besar, stigma buruk yang dikaitkan dengan 'sebuah kata', juga disematkan pada kata "Indon".
Dalam arti biasa, kata ini hanyalah pemenggalan untuk penyebutan orang Indonesia oleh warga negara Malaysia. Tetapi pada perkembangannya juga mengalami distorsi yang berkonotasi negatif. "Indon" identik dengan pekerja non formil yang mengais rejeki di sana, sebagai PRT, buruh, dan pekerja rendahan lainnya......yang walaupun tidak dikatakan dengan formil, ditempatkan pada kasta terendah dalam struktur sosial di sana. Lebih parah lagi ketika pengertian 'Indon' bagi majikan-majikan tiran, diidentikan sebagai "budak', yang dibeli di awal, dan bisa diperlakukan semena-mena selayaknya property mereka....
Betulkah stigma "Indon", dengan segala hal negatif hanya untuk mereka yang bekerja di sektor non formil ? Apakah itu tidak berlaku untuk para professional dan keluarganya yang bekerja di sana???
Sampai hari. Ini belum ada kasus besar yang menjawab pertanyaan itu, apalagi jika yang dimaksud adalah di tempat dimana profesionalisme itu dilakukan, semisal dosen di universitas, atau institusi lainnya.
Tapi siapa bisa menjamin, jika mereka tengah berada di tempat umum, tanpa simbol dan label profesionalisme itu, yang melekat hanya orang Indonesia....apakah stigma "indon" pernah memberikan dampak buruk??!!
Cerita dari beberapa teman, itu terjadi...,bahkan pada publik figure kita dan harus diakui itu menyakitkan, tersinggung.....!!! Bisa jadi, sedikit banyak, fenomena kasus Manohara, salah satunya adalah ini... Wallahualam...!!
Jelas sudah, generalisasi stigma "indon" sedikit banyak mempengaruhi pola pandang masyarakat sana terhadap orang Indonesia.... Siapapun itu... Dan ini harus diluruskan....oleh kita tentu saja, sebagai bangsa.....!!!
Dahsyatnya sebuah distorsi kata...."Wadon" juga "Indon" menyentuh wilayah harga diri.....
Akankah ini dibiarkan....atau adakah ide dan upaya untuk bisa meluruskan semua ini....
Perlu kerja keras....kerja cerdas... Untuk tegaknya sebuah martabat....
Jakarta, 14 Mei 2009
Sebuah kalimat biasa, yang diharapkan berarti biasa juga, apalagi jika dikaitkan dengan pengertian harfiah tata bahasanya. Tetapi jika kalimat tadi diucapkan oleh seseorang, dengan seringai senyum penuh arti yang berkonotasi melecehkan', maka tidak terhindarkan lagi, reaksinya adalah "ketersinggungan' yang amat sangat....
Itulah yang terjadi padaku. Jika tidak menjunjung tinggi etika, saat itu juga rasanya ingin memuntabkan kemarahan, dan membalas dengan kalimat-kalimat keji bernada menuduh.... Tetapi untungnya akal sehat masih bs mengendalikan ketersinggungan itu. Dan saat reda, baru mencoba memahami, kesalahan tidak pada yang menyampaikan, tetapi pada "pengalaman" yang terekam olehnya.
'Wadon', yang berarti perempuan, secara harfiah mempunyai arti luhur, sebagaimana padanannya. Tetapi dalam perkembangannya, mengalami distorsi sedemikian rupa, sehingga jika diucapkan pada konteks tertentu, berarti sangat negatif. Kita tidak bisa menutup mata dan kenyataan, di jalur pantura, di daerah tertentu, budaya 'wadon' sebagai penghibur menjadi fenomenal. Bahkan ada sebuah daerah, dikenal sebagai sentra pemasok 'wadon' untuk tempat-tempat hiburan di ibukota, baik yang terpaksa maupun yang sukarela. Bahkan pada budaya dan habit yang telah menggurita mereka, menjadi 'wadon' adalah cita-cita, khususnya jika itu berarti menjadi 'star', mendapat 'kekayaan' dan berbagai alasan yang sulit diterima dalam tataran normal juga norma universal. Itulah kenyataannya, dari sebuah keyakinan terhadap hal yang salah akan pemenuhan kebutuhan hidup....
Tetapi itu bukan potret perempuan Cirebon, bukan budaya Cirebon....dan yang jelas, itu bukan di wilayah Cirebon. Sangat jauh nun di pesisir pantai sana.... Tetapi ketika penyebutan Cirebon sebagai daerah asal adalah kebanggaan bagi mereka, atau mungkin sekedar kemudahan karena Cirebon adalah kota besar, maka generalisasi pun dimulai. Bagai pepatah, rusak susu sebelanga, hanya karena nila setitik....
Ini bukan ketersinggungan tanpa alasan. Ini adalah upaya untuk menjelaskan, yang harus dilakukan di- Pe aR kan. Cirebon adalah pusat sejarah, dimana di sinilah salah satu pusat penyebaran agama Islam di jawa, selain Banten dan Sunda Kelapa. Sejarah meninggalkan jejaknya di sini, dengan adanya Kerajaan Islam, Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Di Cirebon pula terdapat jejak sejarah para wali, imam besar agama Islam. Tercatat ada Sunan Gunung Jati dan bahkan Sunan Kalijaga pun melakukan tetirah di kota ini, dalam rangka bermunajat pada Allah SWT, yang dikenal dengan petilasan Sunan Kalijaga....
Jadi dilihat dari sudut manapun, tidak ada pembenaran sejarah dan budaya terhadap "perilaku a-moral" itu, yang bisa dikaitkan dengan generalisasi terhadap distorsi kata 'wadon'. Ini hanya bagian dari anomali sebagian masyarakat, dan selalu ada di setiap daerah manapun.
Dalam konteks yang lebih besar, stigma buruk yang dikaitkan dengan 'sebuah kata', juga disematkan pada kata "Indon".
Dalam arti biasa, kata ini hanyalah pemenggalan untuk penyebutan orang Indonesia oleh warga negara Malaysia. Tetapi pada perkembangannya juga mengalami distorsi yang berkonotasi negatif. "Indon" identik dengan pekerja non formil yang mengais rejeki di sana, sebagai PRT, buruh, dan pekerja rendahan lainnya......yang walaupun tidak dikatakan dengan formil, ditempatkan pada kasta terendah dalam struktur sosial di sana. Lebih parah lagi ketika pengertian 'Indon' bagi majikan-majikan tiran, diidentikan sebagai "budak', yang dibeli di awal, dan bisa diperlakukan semena-mena selayaknya property mereka....
Betulkah stigma "Indon", dengan segala hal negatif hanya untuk mereka yang bekerja di sektor non formil ? Apakah itu tidak berlaku untuk para professional dan keluarganya yang bekerja di sana???
Sampai hari. Ini belum ada kasus besar yang menjawab pertanyaan itu, apalagi jika yang dimaksud adalah di tempat dimana profesionalisme itu dilakukan, semisal dosen di universitas, atau institusi lainnya.
Tapi siapa bisa menjamin, jika mereka tengah berada di tempat umum, tanpa simbol dan label profesionalisme itu, yang melekat hanya orang Indonesia....apakah stigma "indon" pernah memberikan dampak buruk??!!
Cerita dari beberapa teman, itu terjadi...,bahkan pada publik figure kita dan harus diakui itu menyakitkan, tersinggung.....!!! Bisa jadi, sedikit banyak, fenomena kasus Manohara, salah satunya adalah ini... Wallahualam...!!
Jelas sudah, generalisasi stigma "indon" sedikit banyak mempengaruhi pola pandang masyarakat sana terhadap orang Indonesia.... Siapapun itu... Dan ini harus diluruskan....oleh kita tentu saja, sebagai bangsa.....!!!
Dahsyatnya sebuah distorsi kata...."Wadon" juga "Indon" menyentuh wilayah harga diri.....
Akankah ini dibiarkan....atau adakah ide dan upaya untuk bisa meluruskan semua ini....
Perlu kerja keras....kerja cerdas... Untuk tegaknya sebuah martabat....
Jakarta, 14 Mei 2009
Rabu, 18 November 2009
Next Generation….
Minggu lalu, jalan-jalan sama keluarga, ceritanya sekalian wisata kuliner..
Tiba di rumah makan..tepatnya warung makan (psssssssst di banjarmasin kalau mau makan enak itu, ya ke warung makan, jangan restaurant hehehe)..murah meriah & yummmmmiii..
Warung makannya rame...rame banget...tandanya laku..tandanya enak.
Iseng iseng mata ini observasi di sekeliling warung...waduh, seluruh bagian dinding dah ditempel oleh spanduk provider telekomunikasi, melintang, datar, silang, pokoknya lomba tampil dah....(itu bukti lagi warung ini enak...banyak pengunjung...potensial untuk promo...).....Pembenaran terhadap pilihan hahahaha..
Yang menarik, karena sekarang lagi musim promo caleg, bagian dinding yang kosong juga dipasangi oleh poster-poster caleg...dari yang senior, terkenal...sangat terkenal...sampai yang baru mulai muncul...
Hal menarik adalah ketika mengamati poster dari 'yang baru muncul". Rata-rata adalah 'next generation' dari politisi senior, atau pejabat atau para sesepuh...
Saya tidak tahu, munculnya 'next generation' ini apakah perlu disyukuri, karena lahir generasi muda penerus yang potensial, atau justru harus dikasihani...karena dari beberapa poster tersebut sangat terlihat bahwa mereka tidak mempunyai rasa percaya diri yang cukup. Percaya diri tentunya muncul jika merasa mempunyai kemampuan yang mumpuni.Kemampuan mumpuni dalam berpolitik, dalam skill...dan dalam banyak hal, tidak semata karena kemampuan finansial...
Dalam poster-poster para 'next generation', dominan terpampang dalam bentuk gambar atau tulisan, 'siapa di belakang saya'..ada yang menuliskan anak dan menantu siapa (baik itu pejabat, mantan pejabat....yang berpengaruh lah katanya), ada yang dengan pendampingan foto yang bersangkutan...ada yang lain lagi...
Apakah hal ini mengurangi kapabilitas 'next generation' ??? Sangat bergantung pada bagaimana masyarakat menilai tentu saja. Pendomplengan kekuatan bisa menguntungkan, bisa juga sangat merugikan, sangat bergantung kepada masyarkat menilai....Semoga, Masyarakat bisa menitipkan amanah pada mereka yang memang layak untuk memegang amanah itu. Tidak sekedar karena rasa rikuh dan hutang budi pada para senior..tidak juga sekedar ikut-ikutan..apalagi hanya karena golongan....
Next generation...penuhilah panggung politik ini dengan itikad baik dan kerja nyata..bukan sekedar memenuhi spirit yang penting muncul dan melanggengkan sebuah klan.....
Ah harapan.....dan makanan pun siap....asli yummmmmmi....
Banjarmasin, 19 November 2008
Tiba di rumah makan..tepatnya warung makan (psssssssst di banjarmasin kalau mau makan enak itu, ya ke warung makan, jangan restaurant hehehe)..murah meriah & yummmmmiii..
Warung makannya rame...rame banget...tandanya laku..tandanya enak.
Iseng iseng mata ini observasi di sekeliling warung...waduh, seluruh bagian dinding dah ditempel oleh spanduk provider telekomunikasi, melintang, datar, silang, pokoknya lomba tampil dah....(itu bukti lagi warung ini enak...banyak pengunjung...potensial untuk promo...).....Pembenaran terhadap pilihan hahahaha..
Yang menarik, karena sekarang lagi musim promo caleg, bagian dinding yang kosong juga dipasangi oleh poster-poster caleg...dari yang senior, terkenal...sangat terkenal...sampai yang baru mulai muncul...
Hal menarik adalah ketika mengamati poster dari 'yang baru muncul". Rata-rata adalah 'next generation' dari politisi senior, atau pejabat atau para sesepuh...
Saya tidak tahu, munculnya 'next generation' ini apakah perlu disyukuri, karena lahir generasi muda penerus yang potensial, atau justru harus dikasihani...karena dari beberapa poster tersebut sangat terlihat bahwa mereka tidak mempunyai rasa percaya diri yang cukup. Percaya diri tentunya muncul jika merasa mempunyai kemampuan yang mumpuni.Kemampuan mumpuni dalam berpolitik, dalam skill...dan dalam banyak hal, tidak semata karena kemampuan finansial...
Dalam poster-poster para 'next generation', dominan terpampang dalam bentuk gambar atau tulisan, 'siapa di belakang saya'..ada yang menuliskan anak dan menantu siapa (baik itu pejabat, mantan pejabat....yang berpengaruh lah katanya), ada yang dengan pendampingan foto yang bersangkutan...ada yang lain lagi...
Apakah hal ini mengurangi kapabilitas 'next generation' ??? Sangat bergantung pada bagaimana masyarakat menilai tentu saja. Pendomplengan kekuatan bisa menguntungkan, bisa juga sangat merugikan, sangat bergantung kepada masyarkat menilai....Semoga, Masyarakat bisa menitipkan amanah pada mereka yang memang layak untuk memegang amanah itu. Tidak sekedar karena rasa rikuh dan hutang budi pada para senior..tidak juga sekedar ikut-ikutan..apalagi hanya karena golongan....
Next generation...penuhilah panggung politik ini dengan itikad baik dan kerja nyata..bukan sekedar memenuhi spirit yang penting muncul dan melanggengkan sebuah klan.....
Ah harapan.....dan makanan pun siap....asli yummmmmmi....
Banjarmasin, 19 November 2008
Tanpa Judul
Ya Allah...yang maha membolak-balikan hati
Hanya pada kekuatanMu-lah hamba berpegang
Hanya pada Rahman dan Rahim Mulah hamba menyandarkan harapan
Sesungguhnya apa yang hamba jalani saat ini
Insya Allah Takdir terbaik yang Engkau tentukan untuk Hamba
Maka berilah kekuatan untuk selalu bersyukur
Maka berilah kemampuan untuk mencari hikmah
Maka jangan biarkan ada tangis untuk semua yang hamba jalani
Kecuali tangis syukur atas limpahan kasih sayangMu
Ya Rabb....dengan rahman dan rahim Mu
Jikalau masih tumpah tangis yang bukan untukMu
Maka hapuskanlah dengan kasih sayangMu
Luruskanlah ketika hamba terseok
Tuntunlah ketika hamba terjatuh
Dan bimbinglah untuk selalu di jalanMu
Jika ada tangis malam ini
Ini adalah tangis untuk menghapus semua dosa
Ini adalah tangis kepasrahan atas segala kekhilafan
Maka ya Rabb...peluklah hamba dalam jalanMu
Menuju kebarokahan hidup selamanya......
"..................Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas Sajadah yang panjang itu
Diselingi sekedar interupsi......................."
Banjarmasin, 5 Juni 2009
Hanya pada kekuatanMu-lah hamba berpegang
Hanya pada Rahman dan Rahim Mulah hamba menyandarkan harapan
Sesungguhnya apa yang hamba jalani saat ini
Insya Allah Takdir terbaik yang Engkau tentukan untuk Hamba
Maka berilah kekuatan untuk selalu bersyukur
Maka berilah kemampuan untuk mencari hikmah
Maka jangan biarkan ada tangis untuk semua yang hamba jalani
Kecuali tangis syukur atas limpahan kasih sayangMu
Ya Rabb....dengan rahman dan rahim Mu
Jikalau masih tumpah tangis yang bukan untukMu
Maka hapuskanlah dengan kasih sayangMu
Luruskanlah ketika hamba terseok
Tuntunlah ketika hamba terjatuh
Dan bimbinglah untuk selalu di jalanMu
Jika ada tangis malam ini
Ini adalah tangis untuk menghapus semua dosa
Ini adalah tangis kepasrahan atas segala kekhilafan
Maka ya Rabb...peluklah hamba dalam jalanMu
Menuju kebarokahan hidup selamanya......
"..................Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas Sajadah yang panjang itu
Diselingi sekedar interupsi......................."
Banjarmasin, 5 Juni 2009
Spirit Hari Ini…Mari Optimis. : "Kisah sebuah jam"
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"
"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Itu tergantung bagaimana kita menyiasati pekerjaan dan tugas kita, bila kita bisa bagi2 menjadi fragmen-fragmen yang kecil.
Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.
(Dikutip dari FB group...Kata2 Hikmah...sangat inspiring...Thx)
Banjarmasin, 23 Juni 2009
"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" "Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" "Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?" "Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.
Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali.
Renungan :
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Itu tergantung bagaimana kita menyiasati pekerjaan dan tugas kita, bila kita bisa bagi2 menjadi fragmen-fragmen yang kecil.
Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.
(Dikutip dari FB group...Kata2 Hikmah...sangat inspiring...Thx)
Banjarmasin, 23 Juni 2009
Langganan:
Postingan (Atom)