Rabu, 18 November 2009

Amang Icang …Itu Namanya..

Malam ini gelap gulita lagi...bukan..bukan karena peduli bumi, ini karena gangguan PLN, katanya sih gangguan PLTU, entah apalagi. Tapi daripada cape teriak dan memaki, diputuskan menunggu dengan sabar aja. Sambil berpelukan bertiga, dengan teteh dan Aa, soalnya Bapaknya lagi tugas ke luar kota. Lamat-lamat terdengar roda itu lagi, dan dalam kegelapan dan kesunyian, deraknya jelas terdengar.

Itu roda gerobaknya Amang Icang. Begitulah kami memanggilnya. Dia mengangkut sampah warga RT kami, dari rumah ke rumah untuk diangkut ke TPS.

Sampai hari ini kami tidak pernah tahu, siapa sebenarnya nama Amang Icang. Sejak 14 tahun yang lalu aku menginjakan kaki di bumi Antasari ini sampai sekarang, dia tidak berubah. Tidak berubah profesinya, tidak berubah gaya kerjanya, dan mungkin juga tidak terlalu berubah, apa yg diterimanya sebagai imbalan. Kalau toh ada kenaikan dari iuran itu, tidak seberapa dengan meningkatnya kebutuhan hidupnya.

Amang Icang, bukan warga kami. Dia tinggal jauh, di kampung gambut sana. Dengan mengayuh sepeda, dia harus menempuh belasan kilometer menuju tempat kami untuk menunaikan tugasnya, dan menggantungkan harapan rejekinya. 3 kali seminggu dia lakukan itu...yang aku tahu, sekali lagi tidak pernah berubah sejak 14 tahun yang lalu aku mengenalnya. Bahkan aku tahu dia jauh lebih lama lagi mengabdikan diri di karirnya ini.

Beberapa kesempatan, ketika harus pulang agak larut, karena pekerjaan di kantor, ak menyaksikan, tubuh kecilnya terengah-engah menarik beban gerobak sampah itu...menuju TPS. Duh Gusti Allah, tanpa terasa berlinang airmata ini. Betapa beratnya hidup bagi seorang Amang Icang. Sampai kapan dia akan bertahan dengan profesi yang mengandalkan kekuatan ototnya? Akankah sampai seperti Kakek di belakangnya, yang juga terengah-engah menarik beban gerobaknya. Akankah sampai setua itu... Tetapi tidak ada hal lain yang dapat dilakukannya, kecuali mengambil upah serabutan untuk bersih-bersih dan bertukang. Dan jika musim tanam atau panen tiba, maka ada tambahan pekerjaan, jika ada yang memintanya.

Amang Icang sudah tidak punya lahan pertanian lagi. Padi yang mengisi lumbungnya adalah padi bagi hasil dari sang pemilik sawah, atau merupakan upah dari pekerjaannya menanam dan memanen. Dia tidak punya banyak dalam hidupnya, tapi dia konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Entah karena begitu cintanya, atau tidak ada kesempatan untuk mencoba yang lain.

Amang Icang tidak mempunyai jaminan kesehatan, jika dia tiba-tiba sakit. Kecuali mengandalkan kartu jamkeskin, yang dia malas untuk mengurusnya.Amang Icang pun menggelengkan kepala, tanda tidak berdaya, jika ditanya soal anak istrinya. Dia tahu pada kekuatan ototnya lah mereka bergantung. Pada kesehatannya lah mereka mengharapkan bulir-bulir rejeki yang telah disiapkan Allah untuk mereka.

Amang Icang, si kakek dan teman senasibnya, bukan termasuk 'pasukan kuning' yang tercatat di pemerintah kota. Yang dalam keterbatasannya masih memiliki asuransi jaminan kecelakaan yang ditanggung oleh pihak pemko.

Ada yang harus diperbaiki, ada yang harus dibicarakan. Atas nama kemanusiaan, atas nama hak layak yang mungkin seharusnya diterima mereka. Sepatutnya kami warga satu RT harus memikirkannya, bahkan mungkin pemerintah seharusnya...

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan kekuatan kepada Amang Icang dan teman-temannya. Dan bukakanlah rejeki untuknya, dari pintu-pintuMu. Semoga kami diberikan kesempatan untuk menjadi salah satu pintuMu, lapangkanlah dada ini, juga dada dan pintu rejeki warga yang lainnya, agar kami bisa berbagi, karena sesungguhnya rejeki itu semata-mata hanya titipanMu. Mudahkanlah Ya Allah... Amin...

(Gelap sekali...emergency lamp dah drop...batere pun semakin low...)

Pertama diterbitkan@my fb, di Banjarmasin, 29 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar